Sebastian Gorka, seorang tokoh kontroversial dalam pemerintahan mantan Presiden Donald Trump, dikenal dengan pernyataan keras dan gaya kepemimpinan yang tidak konvensional di bidang keamanan nasional. Pada 2022, ia berbicara di Rod of Iron Freedom Festival, sebuah acara yang dihadiri oleh pendukung kuat Amendemen Kedua yang berhaluan kanan jauh.

Dalam dunia keamanan nasional yang biasanya menjunjung profesionalisme, Gorka justru menonjol dengan suara lantang dan sikap yang tidak terduga. Ia kerap menggunakan bahasa yang keras, seperti menggambarkan operasi AS terhadap tersangka teroris sebagai pembentukan "kabut merah" dan menumpuk mayat "seperti kayu bakar". Ia juga mengenakan lanyard bertuliskan "WWFY WWKY", kutipan dari ucapan Trump: "Kami akan menemukan kalian dan membunuh kalian".

Popularitas Gorka sempat menurun di tengah kebijakan kontroversial pemerintahan Trump, seperti deportasi massal dan pemotongan anggaran lembaga federal. Namun, situasi berubah pada Februari 2024 ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, meningkatkan risiko serangan balasan terhadap warga dan kepentingan AS di seluruh dunia. Hal ini memunculkan kembali pertanyaan tentang siapa yang memimpin upaya antiterorisme di Gedung Putih.

Upaya Peliputan dan Penolakan Komentar

Sebagai seorang wartawan yang meliput bidang antiterorisme, saya memantau pernyataan publik Gorka selama enam bulan untuk mencari petunjuk mengenai strategi antiterorisme nasional yang telah lama dijanjikannya. Saya juga mencari pembaruan mengenai serangan mematikan AS di Afrika dan Timur Tengah. Laporan ini awalnya merupakan liputan beat jurnalisme biasa, mengingat Gorka menjabat sebagai Direktur Senior Bidang Antiterorisme di Dewan Keamanan Nasional.

Setelah mengumpulkan data dari pernyataan publik Gorka dan wawancara dengan lebih dari dua lusin pejabat keamanan saat ini dan mantan, hasilnya dipublikasikan dalam sebuah investigasi ProPublica pada April 2024. Laporan tersebut mengupas peran Gorka dalam lembaga keamanan nasional yang semakin melemah akibat pergantian kepemimpinan dan kehilangan personel selama pemerintahan Trump memprioritaskan agenda imigrasi.

ProPublica mencoba menghubungi Gorka untuk memberikan kesempatan memberikan komentar. Namun, alih-alih menjawab, Gorka justru menyerang balik melalui unggahan di platform X sebelum artikel diterbitkan. Ia menyebut wartawan sebagai anti-Amerika dan menuduh laporan tersebut sebagai "karya jurnalistik yang busuk".

Transparansi dalam Peliputan

Setelah berdiskusi dengan redaksi, ProPublica memutuskan untuk mencantumkan serangan tersebut dalam artikel. Hal ini menambah dimensi baru mengenai karakter Gorka yang mudah meledak-ledak, sebagaimana yang dicatat oleh seorang mantan pejabat senior: "Itu hanya Gorka yang menjadi Gorka".

Semakin banyak jurnalis yang menolak serangan terhadap kredibilitas mereka dengan menunjukkan proses peliputan secara transparan. Dalam semangat itu, saya ingin menunjukkan bagaimana peliputan beat dasar—dengan memverifikasi pernyataan tokoh berpengaruh—membuka cerita yang lebih luas tentang keadaan misi antiterorisme AS pada momen kritis.

Sebagai wartawan yang telah meliput aparat antiterorisme pasca-9/11 selama lebih dari dua dekade, Gorka adalah sosok yang sudah tidak asing lagi. Ia adalah contoh nyata bagaimana dinamika politik dapat memengaruhi kebijakan keamanan nasional dan peliputan jurnalistik.

Sumber: ProPublica