Senator Amerika Serikat dari Partai Republik, Lindsey Graham, mendesak Presiden Donald Trump untuk mengancam memberlakukan tarif terhadap Tiongkok jika Beijing tidak memutus hubungan dengan Rusia dan Iran. Pernyataan ini disampaikan Graham dalam wawancara di acara Hannity Fox News pada Rabu (14/5/2026).
Menurut Graham, Tiongkok harus berhenti mendukung negara-negara yang dianggapnya sebagai "musuh terbesar dunia". Ia menyebut Rusia dan Iran sebagai contoh rezim yang perlu dihindari. Graham juga mendorong Tiongkok untuk bergabung dengan upaya Amerika Serikat membuka kembali Selat Hormuz, menghentikan ambisi nuklir Iran, serta menghentikan perang antara Rusia dan Ukraina.
"Jika kalian membantu kami, saya akan sangat berterima kasih. Namun jika kalian tetap mendukung rezim-rezim ini, saya akan melakukan bisnis dengan kalian pada Senin, dan memberlakukan tarif pada Selasa," tegas Graham.
Graham juga mengancam akan mengajukan undang-undang yang memungkinkan Trump memberlakukan tarif terhadap Tiongkok jika Beijing terus membeli minyak dari Rusia. Pasalnya, Tiongkok saat ini merupakan pembeli terbesar ekspor minyak dan batu bara Rusia serta minyak Iran.
"Satu-satunya hal yang dihormati Tiongkok adalah kekuatan," kata Graham. "Jika setelah pertemuan ini mereka tetap melakukan hal yang sama dengan Iran dan Rusia, serta kita tidak menghukum Tiongkok, itu akan menjadi kesalahan besar."
Namun, ancaman tarif ini menuai kritik. Para ekonom memperingatkan bahwa kebijakan tersebut dapat memperparah tekanan ekonomi yang sudah dialami masyarakat Amerika akibat inflasi tinggi akibat kampanye militer Trump melawan Iran. Selain itu, tarif baru juga berisiko mengganggu indikator ekonomi utama yang menjadi perhatian Trump: pasar saham AS.
Graham sendiri dikenal aktif mencampuri negosiasi luar negeri. Baru-baru ini, ia juga mencoba melemahkan posisi Pakistan, yang berperan sebagai mediator dalam negosiasi antara AS dan Iran.