Dalam beberapa bulan terakhir, Trader Joe’s menarik ribuan kemasan roti focaccia dan nasi goreng beku dari rak karena diduga mengandung serpihan logam dan kaca. Kabar ini mungkin membuat konsumen ragu untuk membeli produk favorit lainnya seperti cookie butter atau Everything But the Bagel crackers. Namun, para ahli menekankan bahwa sistem penarikan pangan justru merupakan langkah penting untuk melindungi kesehatan masyarakat.

Monti Carlo, seorang koki yang rutin membahas penarikan pangan di Substack-nya, mengungkapkan bahwa pada musim gugur lalu, jumlah pemberitahuan penarikan pangan terasa sangat banyak. Ia menyebutkan beberapa kasus serius, seperti wabah listeria pada makanan pasta siap saji, wabah botulisme pada susu formula bayi ByHeart, serta penarikan sosis dan corn dog karena potensi tercampur potongan kayu. “Anda pasti bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi?” ujar Carlo.

Menurut para ahli, penyebabnya cukup kompleks. Selama setahun terakhir, sistem keamanan pangan di Amerika Serikat mengalami ketidakstabilan. Pada musim gugur tahun lalu, penutupan pemerintah selama 43 hari menyebabkan lebih dari 30.000 pegawai Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan diberhentikan sementara. Hal ini menghambat komunikasi publik dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention) serta menunda inspeksi fasilitas pangan.

Selain itu, pemerintahan sebelumnya juga melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 3.859 pegawai FDA dan 2.499 pegawai CDC pada akhir tahun 2025 sebagai bagian dari upaya penghematan anggaran. Meskipun epidemiolog tidak lagi bekerja, hal ini tidak serta-merta menghilangkan penyakit bawaan makanan—hanya menghentikan pelaporan dan penanganannya.

Belum sepenuhnya jelas bagaimana dampak penutupan pemerintah dan PHK besar-besaran ini terhadap sistem keamanan pangan. Namun, ketika sebuah sistem yang sudah rapuh kehilangan ribuan pekerja, keretakan semakin terlihat. Dalam artikelnya pada Maret 2025, Consumer Reports melaporkan bahwa para ahli keamanan pangan menyatakan anggaran yang ada sebelumnya sudah tidak mencukupi untuk melakukan pengawasan yang memadai, bahkan sebelum pemerintahan baru terbentuk.

Di Amerika Serikat, keamanan pangan dibagi berdasarkan jenis produk. USDA (United States Department of Agriculture) bertanggung jawab atas produk hewani seperti daging dan unggas melalui FSIS (Food Safety and Inspection Service), sementara FDA (Food and Drug Administration) mengawasi semua produk pangan lainnya. Banyak fasilitas USDA diawasi secara terus-menerus, tetapi FDA hanya melakukan inspeksi setahun sekali. Hal ini membuat sebagian besar pengawasan harian bergantung pada produsen pangan itu sendiri.

Sementara itu, dinas kesehatan setempat dan negara bagian sering kali menjadi yang pertama mendeteksi kasus penyakit dan menentukan apakah sumbernya berasal dari pangan. Terkadang, FDA mendelegasikan inspeksi kepada dinas-dinas ini, tetapi peran utamanya adalah mengawasi industri ritel pangan. Ketika terjadi kasus penyakit di berbagai negara bagian, CDC akan turun tangan untuk mengkoordinasikan investigasi dan menghubungi lembaga terkait.

Sistem ini sangat rapuh, dan semakin rentan ketika terjadi gangguan besar. Meskipun demikian, para ahli menekankan bahwa sistem penarikan pangan yang ada saat ini tetap penting untuk melindungi konsumen dari risiko yang lebih serius. Tanpa sistem ini, masyarakat mungkin tidak akan menyadari bahaya yang mengancam kesehatan mereka.