Netanyahu dan Ancaman Demokratisasi di Israel
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tengah menghadapi tekanan politik yang semakin kuat menjelang pemilu yang wajib digelar paling lambat Oktober tahun ini. Bukan hanya karena kebijakan luar negeri kontroversialnya, tetapi juga karena upayanya yang dianggap menggerogoti demokrasi domestik.
Yonatan Levi, seorang akademisi dari lembaga pemikir sayap kiri Molad, baru-baru ini melakukan perjalanan ke Hungaria untuk mempelajari strategi oposisi dalam menghadapi pemerintahan otoriter. Ia melihat kemiripan antara Netanyahu dengan Viktor Orbán, pemimpin Hungaria yang telah berkuasa selama hampir 20 tahun. "Israel belum menjadi Hungaria di Timur Tengah," kata Levi. "Tapi semakin mendekati."
Taktik Otoriter dan Dampak terhadap Demokrasi
Oposisi di Israel meyakini bahwa Netanyahu tengah berupaya untuk menghancurkan institusi demokrasi demi mempertahankan kekuasaan. Langkah-langkah yang dikritik antara lain:
- Menempatkan kroni-kroni di posisi kunci dalam lembaga keamanan negara;
- Mendiskriminasi minoritas Arab;
- Mengejar aktivis sayap kiri;
- Mendorong undang-undang yang menempatkan yudikatif di bawah kendali eksekutif.
Netanyahu bahkan tengah menjalani sidang kasus korupsi, dengan tuduhan utama berupa perdagangan fasilitas regulasi untuk liputan media positif. Presiden AS Donald Trump diduga mendesak Presiden Israel Isaac Herzog, yang memiliki peran lebih simbolis, untuk memberinya pengampunan.
"Saya belum pernah melihat pemilu asing dibahas sedemikian intensif di media Israel — kecuali pemilu AS."
— Yonatan Levi, akademisi dan pengamat politik
Peluang Netanyahu untuk Kalah dan Bertahan
Meski oposisi optimis, ada dua catatan penting yang perlu dipertimbangkan. Pertama, nasib warga Palestina di Tepi Barat, yang hidup di bawah pendudukan militer Israel tanpa hak suara dalam pemilu nasional. Mereka tetap tunduk pada aturan keras yang ditetapkan oleh militer Israel.
Kedua, Netanyahu memiliki basis dukungan yang kuat di kalangan sayap kanan dan kelompok nasionalis. Ia juga dikenal memiliki hubungan erat dengan Trump, yang dapat memberikan dukungan politik maupun diplomatik.
Namun, hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa jika pemilu digelar sekarang, koalisi pemerintahan Netanyahu akan kehilangan mayoritas. Jika tren ini terus berlanjut, ia berisiko menjadi pemimpin sayap kanan global berikutnya yang jatuh, menyusul kekalahan figur serupa di Hungaria dan AS.
Kesimpulan: Masa Depan Demokrasi Israel di Ambang Perubahan
Pemilu Israel tahun ini bukan sekadar persaingan politik biasa. Ia menjadi ujian apakah demokrasi di negara tersebut dapat bertahan dari upaya sistematis untuk melemahkannya. Sementara Netanyahu berupaya mempertahankan kekuasaan, oposisi bertekad untuk mempertahankan prinsip-prinsip demokrasi — meskipun tantangannya sangat besar.