Mahkamah Agung Nevada mengeluarkan putusan pada Kamis (21/11) yang menolak gugatan pencemaran nama baik yang diajukan John Matze, mantan CEO Parler LLC, terhadap Dan Bongino. Putusan ini melibatkan tiga hakim, yaitu Kristina Pickering, Elissa Cadish, dan Patricia Lee.
Kasus ini bermula dari pemecatan Matze sebagai CEO Parler, sebuah platform media sosial yang dikenal karena komitmennya terhadap kebebasan berbicara. Parler sempat dideplatform dari toko aplikasi Apple dan Amazon setelah dituduh digunakan oleh peserta insiden 6 Januari 2021 di Gedung Capitol AS. Setelah pemecatan, Matze menulis memo yang kemudian bocor dan diliput oleh berbagai media, termasuk Fox Business.
Bongino, yang saat itu merupakan komentator politik, pembawa acara radio, dan pemegang saham Parler, merespons memo dan pernyataan Matze melalui video langsung di Facebook. Dalam video tersebut, Bongino menyebut narasi Matze mengenai pemecatannya tidak benar. Ia juga menuduh adanya keputusan "sangat buruk" dan "mengerikan" yang dibuat oleh pihak internal Parler, yang menyebabkan perusahaan kehilangan stabilitas produk akibat dideplatform oleh Amazon dan lainnya.
Matze kemudian menggugat Bongino atas tuduhan pencemaran nama baik. Namun, pengadilan menolak gugatan tersebut dengan alasan utama bahwa pernyataan Bongino merupakan opini yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya.
Pertimbangan Hukum: Opini vs Fakta
Pengadilan menetapkan kriteria untuk membedakan pernyataan opini dan fakta. Menurut putusan ini, pernyataan dianggap sebagai opini jika masyarakat umum memahami bahwa pernyataan tersebut merupakan ekspresi subjektif, bukan fakta yang dapat diverifikasi. Lebih lanjut, pengadilan tidak menilai setiap kata atau detail dalam pernyataan, melainkan melihat "inti atau makna keseluruhan" dari pernyataan tersebut.
Dalam kasus yang melibatkan komentar politik, pengadilan cenderung mengategorikan pernyataan sebagai opini. Hal ini sejalan dengan putusan sebelumnya, seperti dalam kasus Herring Networks, Inc. v. Maddow (9th Cir. 2021), yang menyatakan bahwa konteks luas dari sebuah acara televisi liberal membuat penonton memahami pernyataan pembawa acaranya sebagai opini.
Pengadilan menyimpulkan bahwa Bongino telah memenuhi beban pembuktian dalam kasus ini. Setelah meninjau bukti, termasuk transkrip video yang menjadi sorotan, pengadilan menilai bahwa pernyataan Bongino merupakan ekspresi hiperbolik seorang komentator politik. Meskipun Bongino mengklaim memberikan "cerita sebenarnya" dan "meluruskan fakta", inti dari pernyataannya adalah keyakinan subjektif bahwa dirinya dan rekan-rekannya di Parler lebih berkomitmen terhadap perlindungan kebebasan berbicara dan stabilitas produk dibandingkan Matze.
"Pernyataan opini adalah pernyataan yang kebenaran atau kesalahannya tidak dapat ditetapkan melalui proses hukum," demikian bunyi putusan tersebut. Namun, Matze menarik perhatian pengadilan terhadap beberapa pernyataan spesifik Bongino yang dianggapnya sebagai fakta palsu.
Implikasi terhadap Kebebasan Berekspresi
Putusan ini menjadi preseden penting dalam hukum pencemaran nama baik, terutama dalam konteks komentar politik. Dengan mengategorikan pernyataan Bongino sebagai opini, pengadilan menegaskan bahwa komentar politik yang bersifat subjektif tidak dapat dijadikan dasar untuk tuntutan hukum, kecuali jika pernyataan tersebut mengandung unsur fitnah yang jelas.
Kasus ini juga menyoroti dinamika internal Parler, yang sempat menjadi sorotan akibat hubungannya dengan insiden 6 Januari dan kebijakan moderasinya. Meskipun Parler berusaha memposisikan dirinya sebagai platform yang mendukung kebebasan berbicara, peristiwa ini menunjukkan tantangan yang dihadapi perusahaan dalam menjaga stabilitas dan reputasinya.