Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth, mengumumkan pencabutan kewajiban vaksin flu bagi anggota militer AS. Keputusan ini diambil melalui unggahan di media sosial dan video yang disebarluaskan.

Hegseth menyatakan bahwa Departemen Pertahanan AS kini mengembalikan kebebasan bagi Angkatan Bersenjata AS. "Kami mencabut kewajiban vaksin flu secara efektif mulai hari ini," tulisnya dalam cuitan.

Dalam video yang diunggah, Hegseth menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut. Ia menyebut pemerintahan Biden telah melakukan perang tanpa henti terhadap prajurit, termasuk dengan menerapkan kebijakan vaksinasi wajib COVID-19. Menurutnya, kebijakan tersebut melanggar otonomi medis dan kebebasan beragama prajurit.

"Era pengkhianatan ini telah berakhir. Kami tidak akan memaksakan vaksin flu kepada prajurit. Tubuh, keyakinan, dan kesehatan Anda bukanlah hal yang bisa dinegosiasikan."

Hegseth juga menekankan bahwa kebijakan baru ini memberi kebebasan kepada prajurit untuk memilih vaksinasi sesuai keyakinan pribadi. Namun, ia tidak memberikan bukti bahwa pencabutan kewajiban vaksin tidak akan mempengaruhi kesiapan tempur militer.

Vaksinasi dalam Sejarah: Kontroversi Sejak Abad ke-18

Keputusan Hegseth menuai kontroversi, terutama karena ia mengaitkan kebijakan vaksinasi dengan pelanggaran kebebasan beragama. Klaim ini dianggap tidak berdasar oleh banyak pihak, terutama jika dikaitkan dengan sejarah Amerika Serikat.

Sejak abad ke-18, vaksinasi telah menjadi perdebatan panjang di AS. Pada tahun 1720-an, wabah cacar di Boston memicu perdebatan mengenai variolasi, teknik pencegahan yang menjadi cikal bakal vaksin modern. Variolasi melibatkan pemberian dosis kecil virus cacar hidup untuk membangun kekebalan tubuh, meskipun berisiko menyebabkan infeksi berat.

Pada masa itu, perdebatan mengenai variolasi terjadi di media massa dan tempat ibadah. Banyak tokoh agama dan masyarakat yang menentangnya karena dianggap berbahaya. Namun, tokoh-tokoh seperti Cotton Mather, seorang pendeta terkemuka, mendukung variolasi sebagai langkah pencegahan yang penting.

George Washington dan Vaksinasi: Bukti Sejarah yang Kontraproduktif

Hegseth menyebut kebijakan vaksinasi sebagai "era pengkhianatan". Namun, jika merujuk pada sejarah, George Washington justru menjadi salah satu tokoh yang mendukung vaksinasi untuk melindungi prajuritnya.

Pada tahun 1777, saat Perang Revolusi Amerika, Washington memerintahkan vaksinasi massal prajurit melawan cacar. Ia menyadari bahwa wabah cacar dapat menghancurkan moral dan kekuatan tempur pasukannya. Keputusan ini terbukti efektif dalam menjaga kesiapan militer AS.

"Jika vaksinasi dianggap sebagai pengkhianatan, maka George Washington-lah yang pertama melakukannya," tulis seorang pengamat sejarah.

Implikasi Kebijakan Baru terhadap Militer AS

Pencabutan kewajiban vaksin flu oleh Pentagon menimbulkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap kesehatan dan kesiapan tempur militer. Beberapa ahli kesehatan khawatir bahwa keputusan ini dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit di lingkungan militer.

Sementara itu, kelompok yang mendukung kebebasan pribadi menyambut baik keputusan ini. Mereka berpendapat bahwa setiap individu berhak menentukan pilihan medisnya sendiri, tanpa paksaan dari pemerintah.

Namun, Pentagon belum memberikan data atau studi yang mendukung klaim bahwa pencabutan kewajiban vaksin tidak akan mempengaruhi kesiapan tempur militer. Keputusan ini juga menuai kritik dari para ahli kesehatan masyarakat yang menekankan pentingnya vaksinasi dalam mencegah penyebaran penyakit menular.