Donald Trump kembali menghadapi tekanan politik setelah pengakuannya bahwa perang yang ia mulai di Iran telah merusak ekonomi Amerika Serikat. Pernyataan tersebut muncul ketika harga energi, bahan pangan, dan inflasi melonjak tajam, menurut data resmi yang dirilis Selasa lalu.

Pengakuan Trump tentang Dampak Perang terhadap Ekonomi

Dalam beberapa minggu terakhir, Trump telah berulang kali menceritakan bagaimana ia memberi tahu tim ekonominya tentang keputusan untuk menyerang Iran. Pada pidato di Florida tanggal 1 Mei, ia mengatakan:

Saya memanggil Scott Bessent dan seluruh tim saya, terutama tim keuangan. Saya berkata, 'Selamat, kita baru saja mencetak rekor tertinggi dalam sejarah pasar saham.' ... Harga minyak sangat rendah, hanya $60 hingga $70 per barel. Masyarakat membeli bensin dengan harga $2, bahkan kurang. Di Iowa, harganya hanya $1,85 per galon. Lalu saya berkata, 'Selamat, tapi sekarang saya akan mengacaukan semuanya karena kita harus pergi ke Iran, negara cantik yang bernama Iran, untuk memastikan mereka tidak memiliki senjata nuklir.' Kita menghentikan mereka dengan pesawat B-2. Jika tidak, mereka akan memiliki senjata nuklir.

Setiap kali Trump menceritakan kisah ini, intinya sama: perang adalah keputusannya, dan ia tahu akan mengguncang ekonomi. Sebelum perang, harga gas di beberapa negara bagian bahkan di bawah $2 per galon. Kini, rata-rata harganya telah melonjak menjadi sekitar $4,50 per galon.

Para Anggota Kongres dari Partai Republik Mulai Skeptis

Upaya Trump untuk mendapatkan dana publik senilai miliaran dolar untuk proyek balai gedung putihnya tidak berjalan mulus. Banyak anggota Kongres dari Partai Republik, baik di Dewan maupun Senat, menunjukkan sikap skeptis yang kuat.

Senator John Curtis dari Utah mengatakan kepada Politico:

Dulu itu satu hal ketika dana swasta yang digunakan. Tapi jika Anda meminta saya miliaran dolar, saya punya banyak pertanyaan sulit.

Sementara itu, Anggota DPR Brian Fitzpatrick dari Pennsylvania lebih tegas: "Tidak akan terjadi di sini," katanya.

Inflasi dan Harga Bahan Pokok Melonjak

Data resmi menunjukkan kenaikan tajam pada harga energi, bahan pangan, inflasi inti, dan Indeks Harga Konsumen (IHK). Hal ini disebabkan oleh perang yang dimulai Trump di Iran. Sebelum perang, pada Februari, indeks Dow Jones sempat berada di atas 50.000 poin. Namun, kini pasar saham menunjukkan ketidakpastian akibat ketegangan geopolitik dan dampak ekonomi yang ditimbulkan.

Trump juga pernah menyebutkan bahwa harga minyak bisa lebih mahal menjelang pemilu November. Dalam wawancara dengan Maria Bartiromo pada 12 April, ia mengatakan minyak bisa mencapai harga yang lebih tinggi. Pada 6 Mei, ia bahkan membanggakan bahwa harga minyak hanya mencapai $100 per barel, naik dari $65 sebelum perang.

Trump Selalu Cari Kambing Hitam saat Ekonomi Buruk

Sejak awal masa jabatannya, Trump dikenal gemar mencari kambing hitam atas masalah ekonomi. Ketika ekonomi membaik di bawah pemerintahan presiden lain, ia mengklaim sebagai pencapaiannya. Namun, ketika ekonomi memburuk di bawah pemerintahannya, ia menyalahkan pihak lain, seperti "virus China" di masa pandemi atau Federal Reserve di masa jabatan keduanya.

Kini, dengan pengakuannya sendiri tentang dampak perang terhadap ekonomi, ia tidak bisa lagi menghindari tanggung jawab. Para pengamat politik menilai pengakuan ini menunjukkan bahwa Trump sadar sepenuhnya atas konsekuensi dari keputusan-keputusan besar yang ia ambil.