Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengusulkan perubahan nama sebuah lembaga pemerintah dengan tujuan menciptakan citra yang lebih positif. Kali ini, ia mengusulkan agar U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) diubah namanya menjadi National Immigration and Customs Enforcement (NICE).
Trump membagikan usul tersebut di media sosial pada Minggu (14/7), merujuk pada saran seorang warga yang menyebutkan agar media selalu menyebut agen ICE sebagai "NICE agents". "GREAT IDEA!!! DO IT. President DJT," tulisnya dalam unggahan tersebut.
Usulan ini tampaknya bertentangan dengan citra keras yang selama ini dibangun Trump. Baru-baru ini, ia juga mengusulkan penggantian nama Departemen Pertahanan (Department of Defense) menjadi Departemen Perang (Department of War), yang menunjukkan preferensi Trump terhadap istilah yang lebih tegas.
Namun, citra ICE saat ini tengah mengalami penurunan di mata publik. Survei terbaru dari University of Massachusetts (UMass) menunjukkan bahwa hampir enam dari sepuluh warga Amerika tidak menyetujui kinerja ICE. Sementara itu, jajak pendapat Fox News mencatat penurunan tingkat persetujuan terhadap ICE dari 41% pada 2018 menjadi hanya 58% saat ini.
Mengapa Akronim Bisa Menjadi Senjata Politik
Penggunaan akronim atau backronym dalam pemerintahan AS telah menjadi tren dalam beberapa tahun terakhir. Akronim ini diciptakan untuk memberikan makna yang lebih mudah diingat atau menarik perhatian publik. Menurut analisis The Atlantic pada 2022, sekitar 10% dari nama undang-undang yang diajukan Kongres menggunakan teknik ini.
Beberapa contoh akronim terkenal antara lain:
- CARES Act (Coronavirus Aid, Relief, and Economic Security Act) untuk stimulus pandemi Covid-19 pada 2020.
- CHIPS and Science Act (Creating Helpful Incentives to Produce Semiconductors and Science Act) untuk mendukung industri semikonduktor pada 2022.
Teknik ini memungkinkan nama-nama panjang menjadi lebih singkat dan mudah diingat, sehingga efektif dalam pemberitaan media maupun diskusi publik. Namun, tidak semua akronim diciptakan dengan niat baik. Beberapa di antaranya justru digunakan untuk menyamarkan maksud sebenarnya dari sebuah kebijakan.
Risiko NICE: Lebih Buruk dari Sebelumnya?
Para ahli menilai usulan Trump untuk mengganti nama ICE menjadi NICE justru berpotensi menimbulkan kritik yang lebih keras. Brian Christopher Jones, dosen senior di University of Liverpool yang mempelajari penggunaan akronim dalam kebijakan publik, menyatakan keraguannya.
"Saya bertanya-tanya apakah akronim NICE justru akan membuka pintu kritik yang lebih besar terhadap ICE dibandingkan sebelumnya. Nama ini terdengar terlalu lembut dan ironis, mengingat citra ICE yang kontroversial."
Jones juga menambahkan bahwa penggunaan akronim semacam ini sering kali dimanfaatkan untuk menyamarkan kebijakan yang tidak populer. Contohnya, USA PATRIOT Act yang sebenarnya merupakan singkatan dari Uniting and Strengthening America by Providing Appropriate Tools Required to Intercept and Obstruct Terrorism, justru memperluas wewenang pengawasan pemerintah pasca serangan 11 September 2001.
Sementara itu, SAVE Act (Safeguard American Voter Eligibility Act), yang saat ini masih menunggu pembahasan di Senat, dikritik sebagai upaya untuk membatasi hak suara warga dengan dalih keamanan pemilu.
Dengan demikian, meskipun Trump berharap perubahan nama dapat meningkatkan citra ICE, langkah ini justru berisiko menimbulkan reaksi balik yang lebih kuat dari masyarakat dan media.