Pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump diketahui meningkatkan upaya deportasi terhadap warga Rusia yang menentang perang agresi Vladimir Putin. Para pencari suaka Rusia ini ditolak permohonan suakanya meskipun jelas berisiko ditangkap, dipenjara, atau bahkan dikirim ke medan perang Ukraina.
Upaya ini sebenarnya sudah dimulai sejak masa pemerintahan Presiden Joe Biden, namun mengalami percepatan signifikan sejak Trump kembali menjabat tahun lalu. Menurut perkiraan Russian America for Democracy in Russia (RADR), sebuah organisasi yang membantu warga Rusia antiperang dengan bantuan hukum, otoritas imigrasi AS telah mendeportasi ratusan pencari suaka Rusia sejak Trump kembali berkuasa.
Salah satu korban deportasi adalah seorang pria berusia 25 tahun yang membelot dari dinas militer. Setelah dideportasi ke Rusia, ia langsung ditangkap dan didakwa atas tuduhan desersi. Sementara itu, aktivis oposisi bernama Leonid Melekhin dikirim langsung ke penjara seusai penerbangan deportasi dari AS pada 2025. Ia kini menghadapi hukuman penjara yang panjang.
RADR memperkirakan sekitar 1.000 warga Rusia lainnya yang mengajukan suaka kini ditahan di fasilitas detensi AS. Salah satu di antaranya adalah Krasnov, yang mengajukan suaka di perbatasan AS-Meksiko pada 2023. Ia menghabiskan lebih dari 14 bulan di pusat detensi sebelum dibebaskan pada Oktober 2024 setelah bergabung dalam gugatan kolektif melawan penahanan ilegal. Namun, ia kembali ditahan saat melakukan pemeriksaan rutin dengan Immigration and Customs Enforcement (ICE) pada Februari 2025. Kini, ia yakin akan langsung dipenjara begitu mendarat di Rusia.
Kebijakan ini menuai kecaman karena banyak korban deportasi berpotensi menjadi pekerja paksa dalam perang Ukraina. Pada suatu periode, tahanan Rusia menyumbang hingga 18 persen dari seluruh korban Rusia dalam perang tersebut. "Di Rusia, setiap pria bisa menjadi bagian dari mesin perang Putin. Mengapa memberi Putin lebih banyak 'roda gigi' untuk perangnya?", ujar Krasnov.
Banyak dari para pendatang Rusia yang ditahan ICE adalah pekerja truk. Profesi ini membuat mereka mudah menjadi target karena petugas imigrasi dapat dengan mudah memeriksa dokumen mereka di pos-pos pemeriksaan atau di jalan raya. Anastasia Topilina, yang suaminya Alexander ditahan di pos pemeriksaan Laredo, Texas, mengatakan, "Petugas ICE hanya menangkap mereka yang mudah ditemukan. Mereka tidak perlu repot-repot mencari target mereka."
Alexander sendiri ditahan bersama sekitar 20 pengemudi truk berbahasa Rusia lainnya. Keluarganya terpaksa melarikan diri dari Rusia karena ancaman polisi akibat keterlibatannya dalam protes anti-Putin selama bertahun-tahun. Setelah ditangkap dalam satu unjuk rasa, ia mengaku dipaksa mengaku dengan cara dicekik menggunakan "handuk kain terry" untuk mengakui tuduhan "mencoba menggulingkan presiden."
Masalah ini sebenarnya sudah disorot sejak September tahun lalu, namun hingga kini belum ada perubahan signifikan dalam kebijakan tersebut.