ABA Cabut Standar DEI, Tetap Pertahankan Pendidikan tentang Bias

Asosiasi Pengacara Amerika (ABA) baru-baru ini mencabut Standar 206 dalam Peraturan Prosedur untuk Persetujuan Sekolah Hukum. Standar ini sebelumnya mewajibkan sekolah hukum untuk menunjukkan komitmen terhadap keberagaman dan inklusi (DEI). Keputusan ini diumumkan setelah Wall Street Journal mengkritik kebijakan DEI yang dianggap memaksakan pandangan tertentu.

Standar 303(c) Masih Berlaku, Sekolah Hukum Dapat Kritik DEI

Meskipun Standar 206 dicabut, Standar 303(c) tetap berlaku. Standar ini mengharuskan sekolah hukum untuk memberikan pendidikan kepada mahasiswa tentang bias, kompetensi lintas budaya, dan rasisme minimal dua kali sebelum lulus. Ketua Dewan ABA, Daniel Thies, dalam suratnya kepada redaksi, mengungkapkan bahwa sekolah hukum dapat memenuhi standar ini dengan cara yang tidak terduga.

Menurut Thies, sekolah hukum memiliki kebebasan untuk menentukan isi sesi pendidikan tersebut. Mereka bahkan dapat mengkritik dampak negatif DEI atau menekankan pentingnya kebebasan beragama. "Sekolah hukum dapat memenuhi Standar 303(c) dengan menyoroti bagaimana DEI merugikan kebebasan beragama," tulis Thies.

Contoh Praktik yang Sudah Berlangsung

Thies memberikan contoh nyata dari praktik ini. Ia pernah memberikan ceramah hukum berkelanjutan (CLE) yang mengkritik peraturan anti-bias di beberapa negara bagian. Meskipun mengkritik DEI, ceramah tersebut tetap mendapatkan pengakuan kredit oleh asosiasi pengacara setempat. "Saya berani menyatakan bahwa peraturan anti-bias, termasuk Model Rule 8.4(g) ABA, tidak konstitusional. Namun, kredit tetap diberikan," ujarnya.

Dampak Kebijakan Baru ABA terhadap Sekolah Hukum

Keputusan ABA untuk mencabut Standar 206 dan mempertahankan Standar 303(c) memberikan fleksibilitas baru bagi sekolah hukum. Meskipun Standar 206 akan sepenuhnya dihapus pada Agustus 2025, banyak sekolah hukum yang kemungkinan tetap akan mempertahankan semangat DEI secara sukarela. Kebijakan ini juga memberikan ruang bagi ABA untuk menghadapi potensi konflik dengan Departemen Pendidikan di masa depan.

Thies menambahkan, "Meskipun Standar 206 dicabut, sekolah hukum masih dapat mematuhinya secara sukarela. Namun, kebijakan ini setidaknya memberikan ABA ruang untuk bernegosiasi dalam pertarungan hukum yang mungkin terjadi."

Reaksi terhadap Kebijakan ABA

Kebijakan ABA menuai beragam reaksi. Beberapa pihak menyambut baik keputusan ini sebagai langkah menuju netralitas dalam pendidikan hukum. Namun, ada juga yang mengkhawatirkan bahwa kebijakan ini dapat melemahkan upaya untuk menciptakan lingkungan hukum yang inklusif dan bebas dari diskriminasi.

Sementara itu, ABA sendiri menyatakan bahwa keputusan ini diambil untuk memastikan bahwa pendidikan hukum tetap objektif dan tidak memihak pada satu pandangan tertentu. "Tujuan utama kami adalah memastikan bahwa mahasiswa hukum mendapatkan pendidikan yang komprehensif dan tidak bias," kata seorang juru bicara ABA.

Sumber: Reason