Riyadh, Arab Saudi — Pada akhir April 2024, Five Iron Golf, merek hiburan golf dalam ruangan asal Amerika Serikat, resmi membuka cabang pertamanya di Arab Saudi. Lokasi ini terletak di lantai dasar Public Investment Fund (PIF) Tower, gedung tertinggi di Riyadh yang juga menjadi kantor pusat PIF. Pembukaan ini merupakan hasil kerja sama selama hampir tiga tahun dengan Golf Saudi, afiliasi dari dana kekayaan negara terbesar di dunia tersebut.

Menurut Jared Solomon, salah satu pendiri dan CEO Five Iron Golf, fasilitas ini menawarkan pengalaman serupa dengan cabang-cabang perusahaan di AS dan luar negeri. “Pengunjung bisa memukul bola golf, bersenang-senang, makan, dan menikmati hiburan tanpa minuman keras,” ujarnya. “Mereka benar-benar menikmati waktu mereka di sini.”

Five Iron Golf pertama kali didirikan di Manhattan, New York, pada 2017. Nama merek ini terinspirasi dari klub golf dan Fifth Avenue di kawasan Flatiron District, tempat lokasi pertamanya dibuka. Hingga saat ini, perusahaan telah memiliki lebih dari 40 cabang di AS dan telah berekspansi ke luar negeri melalui sistem waralaba di Singapura, Dubai, Spanyol, dan Portugal. Pembukaan cabang di Arab Saudi juga dilakukan melalui kerja sama waralaba dengan Golf Saudi. Solomon enggan mengungkapkan detail finansial, namun menyebutkan bahwa biaya waralaba biasanya berkisar antara $50.000 hingga $100.000 per lokasi, ditambah sekitar 6% dari pendapatan. Ia berharap lokasi di PIF Tower hanya menjadi awal dari ekspansi besar-besaran Five Iron Golf di Arab Saudi.

Namun, pembukaan Five Iron Golf bukanlah berita terbesar di dunia golf dari kawasan ini musim semi ini. Sorotan utama justru datang dari pengumuman PIF yang menyatakan akan menghentikan pendanaan terhadap LIV Golf, tur golf kontroversial yang telah menerima dukungan dana lebih dari $5 miliar sejak diluncurkan pada 2022. Dalam pernyataan resmi yang tersebar luas, PIF menyebutkan bahwa dukungan terhadap LIV Golf tidak lagi sejalan dengan strategi investasi saat ini, dengan alasan “prioritas investasi dan dinamika makroekonomi terkini”. (PIF tidak merespons permintaan komentar dari Fast Company.)

Keputusan ini menandai babak baru dalam upaya Arab Saudi untuk meredefinisi keterlibatannya di dunia golf internasional. LIV Golf sendiri telah menimbulkan kontroversi sejak awal, terutama karena berhasil menarik sejumlah besar pemain golf profesional untuk meninggalkan PGA Tour, yang kemudian melarang pemainnya untuk berpartisipasi di kedua tur tersebut.

Lebih dari sekadar investasi olahraga, langkah ini juga mencerminkan ambisi besar Arab Saudi di bawah proyek Vision 2030, yaitu rencana transformasi ekonomi nasional untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan menjadikan negara tersebut sebagai pusat bisnis, olahraga, pariwisata, dan hiburan. Dana investasi ini juga telah menanamkan modal besar di berbagai perusahaan teknologi global, seperti Uber dan Magic Leap, serta melalui dana seperti SoftBank Vision Fund senilai $100 miliar. Baru-baru ini, PIF juga dikabarkan akan mengambil bagian besar dalam penggabungan bisnis media Paramount dan Warner Bros. Discovery.

Di bidang olahraga, Arab Saudi tidak hanya fokus pada golf. Negara ini akan menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 2034 dan pameran dunia bertema expo pada 2030. Selain itu, PIF juga tetap mempertahankan kepemilikan mayoritas atas klub sepak bola Newcastle United di Liga Premier Inggris. Investasi-investasi ini tidak semata-mata bersifat ekonomi, melainkan juga bertujuan untuk mengubah citra global Arab Saudi setelah bertahun-tahun mendapat sorotan atas isu pelanggaran hak asasi manusia, pembatasan hak perempuan, serta pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi pada 2018.