Pemerintah China secara resmi memblokir rencana akuisisi startup kecerdasan buatan (AI) Manus oleh Meta Platforms, perusahaan induk Facebook dan Instagram. Keputusan ini diumumkan melalui pernyataan singkat oleh Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC), badan perencanaan ekonomi tertinggi di China, pada Senin (13/5).
NDRC menyatakan telah melarang akuisisi asing terhadap Manus dan memerintahkan semua pihak yang terlibat untuk membatalkan transaksi tersebut. Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit, langkah ini secara tidak langsung menargetkan Meta, yang mengumumkan rencana pembelian Manus pada Desember 2023.
Manus, yang memiliki akar bisnis di China namun berkantor pusat di Singapura, mengembangkan agen AI serbaguna yang mampu melakukan tugas kompleks seperti pengkodean aplikasi, riset pasar, hingga penyusunan anggaran kuartalan. Keputusan NDRC diambil melalui Mekanisme Kerja untuk Tinjauan Keamanan Investasi Asing, sesuai dengan regulasi China.
Pemblokiran ini terjadi hanya beberapa minggu sebelum kunjungan kenegaraan Presiden AS Donald Trump ke Beijing untuk bertemu dengan Presiden China Xi Jinping. Dalam pernyataan resmi, Juru Bicara Gedung Putih Kush Desai menegaskan bahwa pemerintahan Trump akan terus melindungi sektor teknologi inovatif AS dari campur tangan asing yang tidak sah.
Meta sebelumnya telah menyatakan bahwa transaksi ini sepenuhnya mematuhi hukum yang berlaku. Perusahaan yang berbasis di California itu juga menegaskan bahwa Manus tidak lagi memiliki kepentingan kepemilikan China dan akan menghentikan operasionalnya di negara tersebut. Namun, Kementerian Perdagangan China pada Januari 2024 telah mengumumkan investigasi untuk memastikan apakah akuisisi ini sesuai dengan regulasi nasional.
Regulasi China mensyaratkan bahwa setiap perusahaan yang terlibat dalam investasi keluar negeri, ekspor teknologi, transfer data, atau akuisisi lintas batas harus mematuhi hukum setempat. Sebelum kesepakatan, Manus dimiliki oleh Butterfly Effect Pte, perusahaan Singapura, namun jejak bisnisnya berawal dari entitas terdaftar di Beijing beberapa tahun sebelumnya.
Manus belum memberikan tanggapan resmi atas keputusan ini. Situs web perusahaan bahkan masih menampilkan status "Manus kini bagian dari Meta", yang mengindikasikan transaksi telah selesai secara administratif. Meta kembali menegaskan pada Senin bahwa "transaksi Manus sepenuhnya sesuai dengan hukum yang berlaku" dan berharap proses investigasi akan menemukan resolusi yang tepat.
Para analis melihat langkah China ini sebagai bagian dari strategi pemerintah untuk memperketat pengawasan terhadap industri AI, yang semakin menjadi medan persaingan geopolitik dengan AS. Lian Jye Su, Kepala Analis Riset Teknologi di firma riset pasar, menyatakan:
"China menunjukkan kepada dunia bahwa negara ini siap bermain keras dalam perebutan talenta dan kapabilitas AI, yang dianggap sebagai aset keamanan nasional yang krusial."
Persaingan AS-China dalam penguasaan teknologi AI semakin sengit dalam beberapa tahun terakhir. China secara agresif mendorong pengembangan AI domestik melalui investasi besar-besaran dan regulasi ketat, sementara AS berupaya membatasi transfer teknologi sensitif ke luar negeri. Keputusan ini menambah daftar ketegangan antara kedua negara dalam bidang teknologi, khususnya di sektor yang dianggap strategis bagi masa depan ekonomi global.