Guillermo del Toro, sutradara pemenang Oscar, kembali menyuarakan ketidaksetujuannya terhadap anggapan bahwa seni, termasuk perfilman, dapat diciptakan dengan mudah menggunakan aplikasi atau teknologi generatif. Kritik tajam ini ia sampaikan dalam acara Festival Film Cannes 2024, saat menghadiri pemutaran ulang film legendarisnya, Pan’s Labyrinth, dalam versi 4K.
Film Pan’s Labyrinth, yang memenangkan tiga Oscar pada 2007, pertama kali diputar di Cannes pada 2006 dan menerima standing ovation selama 22 menit—rekor terpanjang dalam sejarah festival. Del Toro mengenang momen tersebut dengan nada humor, mengaku merasa tidak terbiasa dengan pujian berlebihan. "Tubuhku memang besar, tapi aku tidak terbiasa dengan pujian. Sulit bagiku untuk menerima cinta," ujarnya sambil tertawa.
Ia juga mengungkapkan perasaannya saat itu, ketika Alfonso Cuarón, teman dan sesama sutradara, mendorongnya untuk menerima cinta tersebut. "Biarkan cinta itu masuk," kata Cuarón saat itu.
Del Toro kemudian menyoroti keadaan saat ini, di mana banyak orang percaya bahwa seni dapat dibuat dengan "aplikasi sialan". Ia menekankan bahwa meskipun tantangan besar menghadang, perlawanan dan keyakinan tetap diperlukan. "Seperti Ofelia dalam Pan’s Labyrinth, jika kita bisa meninggalkan jejak, jika kita bisa melawan ketakutan dengan keyakinan dan kekuatan, masih ada harapan," katanya.
Lebih lanjut, del Toro membandingkan dua pilihan yang dihadapi manusia: cinta atau ketakutan. "Hal terakhir yang bisa kita lakukan adalah memberikan kekuatan kepada salah satu dari keduanya. Kita bisa memilih cinta, atau ketakutan. Tapi ingat, jangan pernah, pernah, memberikan kekuatan kepada ketakutan," tegasnya.
Komentar del Toro mengenai "aplikasi sialan" ini tidak lepas dari perdebatan seputar penggunaan AI dalam perfilman dan televisi. Sutradara kelahiran Meksiko ini dikenal vokal menentang AI generatif. Ia bahkan pernah menyatakan, "F—k AI," dan pada tahun lalu mengatakan bahwa ia lebih memilih mati daripada menggunakan AI dalam karyanya.
Pemutaran ulang Pan’s Labyrinth dalam versi 4K di Cannes kali ini menggunakan negatif asli 35mm film. Saat membahas film tersebut, del Toro juga mengenang perjuangannya selama proses pembuatan. "Dua puluh tahun lalu, membuat film ini seperti melawan segala sesuatu. Ini adalah pengalaman pembuatan film terburuk kedua dalam hidupku, yang pertama adalah Mimic bersama Weinsteins—itu sangat mengerikan," ujarnya.
Ia melanjutkan, "Tidak ada yang mau mendanai film ini. Saat produksi, segala sesuatu yang bisa salah, salah. Dan pascaproduksi juga sama sulitnya." Meskipun demikian, Pan’s Labyrinth tetap dianggap sebagai karya terbaik del Toro oleh banyak penggemar dan kritikus.