Festival Film Cannes hari ketiga telah dimulai dengan semangat yang tinggi. Pada Rabu (14/5), salah satu film yang paling dinantikan, ‘Teenage Sex and Death at Camp Miasma’, karya sutradara Jane Schoenbrun, resmi debut di sesi Un Certain Regard. Film ini mendapat sambutan luar biasa dari penonton di dalam ruangan.

Schoenbrun, yang dikenal melalui filmnya ‘I Saw the TV Glow’ di bawah label A24, menulis dan menyutradarai film baru ini. Film ini akan dirilis oleh Mubi pada musim panas mendatang. Dijuluki sebagai surat cinta untuk film jagal era 1980 dan potret mendalam tentang pengalaman transgender, film ini dibintangi oleh Hannah Einbinder, Gillian Anderson, Eva Victor, Zach Cherry, Sarah Sherman, Jasmin Savoy Brown, dan Jack Haven.

Film ini mengikuti seorang pembuat film (Einbinder) yang dipekerjakan untuk menyutradarai ulang serial lama berjudul ‘Camp Miasma’ dan berusaha mendapatkan bintang reklusif (Anderson) untuk berperan di dalamnya. Beberapa kritikus menyebut film ini lebih sebagai sekuel warisan daripada remake.

Sambutan Luar Biasa dari Penonton

Kritikus Zachary Lee dari Cannes memberikan ulasan yang sangat positif. Ia menulis, "Sulit untuk sepenuhnya menerima, apalagi mencerna, sebuah karya baru saat pertama kali melihatnya. Namun, karya seperti Schoenbrun ini memiliki semangat yang luar biasa untuk mengajak penonton memahami sudut pandang baru."

Sambutan di lokasi juga sangat antusias. Beberapa laporan menyebutkan tepuk tangan berdiri berlangsung selama sembilan menit. Bahkan, Einbinder sempat mencoba berterima kasih kepada para pemain dan kru selama tiga menit dalam tepuk tangan tersebut. Anderson dan Schoenbrun juga hadir dan memperkenalkan film tersebut pada malam itu.

Kritik terhadap Tepuk Tangan Berdiri di Cannes

Sementara itu, kritikus Steve Pond menyoroti fenomena tepuk tangan berdiri yang hampir selalu terjadi di setiap premiere Festival Film Cannes, bahkan untuk film yang kurang berkualitas. Ia menulis, "Dulu, alat utama seorang jurnalis atau kritikus di Cannes hanyalah buku catatan dan pena. Kini, ada tambahan yang tak terhindarkan: aplikasi stopwatch di iPhone."

Pond berpendapat bahwa kebiasaan bertepuk tangan berdiri telah mengubah dinamika festival. Ia menambahkan, "Sekarang, tepuk tangan berdiri selama empat menit dianggap sebagai tanda kelemahan. Jika penonton tidak berdiri selama lima menit, seolah-olah film tersebut tidak layak diapresiasi."

Meskipun demikian, ia mengakui bahwa fenomena ini sulit dihindari di era media sosial saat ini.

Sumber: The Wrap