Serangan Beruntun Menandai Bulan Penuh Tekanan

Maret lalu menjadi ujian berat bagi otoritas kontra-terorisme Amerika Serikat. Bulan itu dimulai dengan penembakan oleh pria berbaju bendera Iran yang menewaskan tiga orang di sebuah bar di Texas. Tak lama setelah itu, serangan bom buatan sendiri terjadi di luar kediaman wali kota New York. Pada 12 Maret, penembakan mematikan terjadi di kampus perguruan tinggi di Virginia, disusul serangan mobil yang menabrak sinagog di Michigan pada sore harinya. Beberapa hari kemudian, agen menangkap seorang pria yang didakwa merencanakan serangan massal di masjid di Ohio.

Bagi pejabat keamanan nasional saat ini dan mantan pejabat, peristiwa-peristiwa ini menjadi pertanda buruk. Mereka telah memperingatkan sejak tahun lalu ketika Presiden Donald Trump mulai mengalokasikan kembali sumber daya kontra-terorisme untuk kampanye deportasi massal. Mereka khawatir kemampuan respons pemerintah melemah jika ancaman global meningkat.

Gorka dan Keterlambatan Strategi Kontra-Terorisme

Sorotan kini tertuju pada Sebastian Gorka, penasihat kontra-terorisme Gedung Putih yang bertugas menyusun rencana untuk melawan ancaman terorisme domestik dan internasional. Hampir setahun lalu, Gorka mengumumkan bahwa strategi nasional kontra-terorisme akan segera dirilis. Pada Juli, ia mengatakan rencana itu hampir selesai, ungkapan yang diulanginya lagi pada Oktober dan Januari. Namun hingga kini, tidak ada strategi yang diterbitkan, apalagi penjelasan atas keterlambatan tersebut.

Ketika akhirnya dirilis, kata para mantan dan petugas kontra-terorisme saat ini, mereka memperkirakan dokumen tersebut akan lebih didasarkan pada kepentingan politik daripada intelijen. Mereka juga memprediksi sedikitnya detail mengenai cara mengatasi ancaman setelah satu tahun pemotongan besar-besaran di berbagai lembaga keamanan nasional.

"Strategi hanya berharga jika didukung oleh sumber daya yang memadai," kata seorang mantan pejabat senior yang pernah bertugas di pemerintahan Trump pertama. "Kita memasuki wilayah yang sangat berbahaya."

Gorka: Dari Kontroversi hingga Kekhawatiran Baru

Keterlambatan ini tak mengherankan bagi rekan-rekan Gorka yang mengenalnya sebagai sosok yang blak-blakan dan mudah marah. Ia dikenal dengan gaya bicara yang bombastis dan suara beraksen Inggris yang lantang. Melalui wawancara dengan lebih dari dua lusin pakar keamanan nasional lintas partai, ProPublica melacak perjalanan Gorka hingga menduduki salah satu posisi paling sensitif di pemerintahan.

Hampir semua narasumber berbicara dengan syarat anonim karena pemerintahan Trump dikenal memiliki catatan balas dendam terhadap pengkritik. Kenaikan jabatan Gorka, menurut mereka, mencerminkan perubahan mencengangkan dalam agenda kontra-terorisme pemerintahan Trump periode kedua.

Jika pada pemerintahan Trump pertama, Gorka hanya bertahan tujuh bulan sebelum dipecat oleh "para dewasa di ruangan"—sebutan untuk staf moderat yang melindungi presiden—kini kecemasan lebih besar muncul. Bukan hanya karena gaya bicara Gorka yang kontroversial, tetapi juga ketidaksiapan pemerintah dalam mengidentifikasi dan mencegah plot teror besar.

Catatan Kontroversial Gorka

Selama masa jabatannya yang singkat di pemerintahan pertama, Gorka dilaporkan kesulitan memperoleh izin keamanan dan menghadapi kecaman karena hubungannya—yang ia bantah—dengan kelompok ekstremis. Meskipun demikian, ia kembali diangkat oleh pemerintahan Trump periode kedua, menimbulkan pertanyaan tentang prioritas dan kesiapan pemerintah dalam menghadapi ancaman terorisme yang semakin kompleks.

Sumber: ProPublica