INDIANAPOLIS, INDIANA — NCAA mengumumkan perluasan turnamen basket putra dan putri menjadi 76 tim pada Kamis (7/5/2026). Keputusan ini akan diberlakukan mulai musim 2027, menambah delapan tim lagi dari format sebelumnya. Sayangnya, ekspansi ini justru menuai kritik keras dari penggemar dan pengamat olahraga.
Format baru ini mengembangkan konsep "First Four" yang sudah ada sejak 2011. Jika sebelumnya hanya dua pertandingan play-in, kini akan ada enam pertandingan sebelum babak pertama resmi dimulai. Dampaknya, turnamen yang sudah terasa terlalu panjang ini semakin membengkak dan kualitas kompetisi dipertanyakan.
Pada 2026, tim-tim seperti Oklahoma, Auburn, Indiana, Cincinnati, dan San Diego State terpaksa bermain di babak play-in meski catatan musim mereka hanya sedikit di atas 50%. Hal ini menunjukkan bahwa ekspansi hanya mengutamakan kuantitas ketimbang kualitas.
Dari sisi estetika, format baru ini juga dianggap merusak struktur bracket yang selama ini dinilai indah. NCAA sendiri mengakui bahwa penambahan delapan tim dan delapan pertandingan baru dimaksudkan untuk memaksimalkan nilai media dan pendapatan.
Motivasi utama: uang, bukan olahraga
Dan Gavitt, Senior Vice President Bidang Basket NCAA, secara terbuka menyatakan bahwa ekspansi hingga 76 tim adalah langkah optimal untuk memaksimalkan pendapatan dalam jangka waktu yang terbatas. "Kami yakin 76 tim adalah batas maksimal yang bisa kami capai tanpa mengganggu jadwal turnamen," ujar Gavitt.
Ekspansi ini juga didukung oleh kesepakatan hak siar senilai lebih dari $1 miliar untuk turnamen 2026, berkat kenaikan jumlah penonton. Kesepakatan ini berlaku hingga musim 2032, mendorong NCAA untuk terus membesar-besarkan turnamen demi menambah pendapatan.
Gavitt mencoba meredam kritik dengan menyebut biaya operasional yang tinggi, seperti biaya perjalanan, akomodasi tim, dan operasional pertandingan. "Ekspansi tidak akan terjadi tanpa kesepakatan hak siar ini," katanya. Namun, banyak pihak menilai alasan tersebut sebagai upaya menutupi motif utama: keuntungan finansial semata.
Kini, turnamen March Madness semakin jauh dari semangat kompetisi olahraga murni dan semakin dekat dengan kepentingan komersial.