Proyek Ambisius AI Terhambat, CEO Fermi America Resign

Proyek data center terbesar di dunia yang didukung oleh sekutu mantan Presiden AS Donald Trump dan menggunakan namanya kini terhenti akibat keterlambatan serta hambatan logistik yang berpotensi menghentikan proyek sebelum dimulai. Kabar terbaru muncul Jumat (13/9): CEO Toby Neugebauer mengundurkan diri secara tiba-tiba. Kejadian ini membuat saham perusahaan, yang sebelumnya sudah turun 75% dalam enam bulan terakhir, semakin tertekan di perdagangan setelah jam kerja.

Mengapa Ini Penting?

Fermi America, yang didirikan oleh mantan Menteri Energi AS di bawah pemerintahan Trump, Rick Perry, menjadi ujian besar bagi proyek infrastruktur AI terbesar dan paling ambisius. Apakah mereka mampu memenuhi janji yang telah diumumkan?

Penyebab Keterlambatan dan Keterbatasan

Dalam wawancara dengan Axios pada Kamis (12/9), Neugebauer membela proyek tersebut namun mengakui beberapa kekurangan. Ia tidak memberikan petunjuk bahwa pengunduran dirinya akan segera terjadi.

"Saya mungkin terlalu naif mengenai kompleksitas proyek semacam ini, terutama sistem pendingin yang sangat penting untuk mendinginkan chip AI," ujar Neugebauer. Ia juga mengakui kemungkinan salah memahami ketersediaan rantai pasok peralatan pendingin: "Saya akan menerima itu sebagai kegagalan."

Upaya untuk meminta komentar lebih lanjut kepada perusahaan dan Neugebauer secara langsung pada Sabtu tidak membuahkan hasil.

Masalah Utama: Kurangnya Penyewa Utama

Salah satu hambatan terbesar yang dihadapi Fermi America adalah tidak adanya penyewa utama yang secara terbuka dikonfirmasi. Biasanya, penyewa semacam ini—seperti perusahaan hyperscaler—merupakan kunci untuk melanjutkan proyek, termasuk dalam hal sistem pendingin.

Masalah ini tercatat dalam laporan independen oleh Cleanview, firma yang melacak data center dan energi bersih, serta dalam panggilan pendapatan, dokumen publik, dan pernyataan eksekutif perusahaan.

Pengakuan Neugebauer tentang Ketiadaan Penyewa

Neugebauer mengakui kepada Axios bahwa proyek tidak dapat berjalan tanpa penyewa. Namun, ia juga menyatakan bahwa masalah ini—atau ketiadaan penyewa—"bukan masalah" bagi perusahaan.

Pada panggilan pendapatan Fermi tanggal 30 Maret, analis menekan eksekutif mengenai tidak adanya penyewa yang diumumkan secara publik. Neugebauer menanggapi dengan mengatakan perusahaan sedang menandatangani surat niat baru, tetapi tidak dapat membagikan detail hingga semuanya final. Sebuah penyewa bahkan mundur pada Desember 2024, yang memicu gugatan class-action dari investor.

Sejarah Singkat Proyek

Proyek ini, yang juga dikenal sebagai Project Matador, berlokasi di Texas Panhandle. Diumumkan pada Juni 2025, perusahaan ini kemudian go public beberapa bulan setelahnya. Kampus yang akan dibangun dinamai President Donald Trump Advanced Energy and Intelligence Campus.

Perusahaan telah melewati beberapa hambatan, termasuk mendapatkan izin udara pada awal tahun ini.

Data Mencengangkan tentang Skala Proyek

Menurut Neugebauer dalam acara Semafor pekan lalu, proyek ini merupakan proposal data center terbesar yang pernah ada. Luasnya mencapai setengah ukuran Manhattan dengan kebutuhan daya tiga kali lipat dari Kota New York. Ia menyebutkan proyek ini akan menghasilkan 17 gigawatt daya, sebagian besar dihasilkan di lokasi melalui kombinasi gas alam, tenaga nuklir, dan solar.

Hambatan Utama: Sistem Pendingin

Neugebauer menyebutkan adanya penundaan dalam konfirmasi sistem pendingin, yang biasanya dirancang oleh penyewa dan harus diselesaikan sebelum konstruksi dapat dimulai.

"Saya pikir ini merupakan hambatan yang lebih besar daripada yang kami antisipasi sebelumnya," kata Neugebauer dalam panggilan pendapatan.

Tantangan di Depan

Dengan mundurnya CEO dan tidak adanya penyewa utama, masa depan proyek Fermi America kini menjadi tanda tanya besar. Apakah proyek ambisius ini akan mampu bertahan menghadapi berbagai hambatan yang ada?

Sumber: Axios