Robotika kini semakin canggih. Setelah menguasai tenis lapangan dan memecahkan rekor lari maraton, robot kini siap menaklukkan olahraga tenis meja. Dalam studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature pekan ini, para peneliti mengungkapkan bagaimana mereka menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk melatih lengan robot buatan Sony, yang diberi nama Ace, agar mampu mengalahkan pemain elit dan profesional dalam pertandingan resmi.

Sony menyatakan bahwa Ace adalah robot pertama yang mencapai tingkat keahlian ahli dalam olahraga fisik kompetitif manapun. Ini menjadi pencapaian besar setelah puluhan tahun pengembangan robot tenis meja. Dalam video promosi yang dirilis oleh divisi AI Sony, robot ini terlihat bergerak dengan kecepatan luar biasa, memukul bola dengan presisi tinggi untuk menangkis serangan agresif dari lawan manusia. Para pemain profesional pun tak segan memberikan pukulan keras untuk menguji kemampuan robot tersebut.

Prestasi ini bukan hanya sebuah pencapaian teknologi yang mengesankan, tetapi juga merupakan tonggak penting dalam penerapan AI pada robotika. Dua bidang penelitian ini menjadi tulang punggung perkembangan robot humanoid dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun mengajarkan robot untuk bermain tenis meja mungkin tidak terdengar seperti inovasi yang akan memicu revolusi industri, banyak pencapaian Ace berpotensi diadaptasi untuk bidang lain.

Dampak Lebih Luas dari Inovasi Robot Ace

Peter Dürr, pemimpin proyek dan penulis utama studi dari Sony AI, mengatakan kepada Reuters bahwa kesuksesan Ace dengan sistem persepsinya dan algoritma kontrol berbasis pembelajaran menunjukkan bahwa teknik serupa dapat diterapkan pada bidang lain yang membutuhkan kontrol cepat, interaksi real-time, dan presisi tinggi. Ia menyebutkan contohnya dalam manufaktur, robot layanan, hingga aplikasi di bidang olahraga, hiburan, dan keamanan fisik.

Menurut studi tersebut, Ace berhasil memenangkan tiga dari lima pertandingan melawan pemain elit yang memiliki pengalaman lebih dari sepuluh tahun. Namun, robot ini sempat kalah dalam dua pertandingan melawan pemain profesional tingkat atas pada April 2025. Sony kemudian mengklaim bahwa Ace berhasil mengalahkan lebih banyak pemain profesional pada Desember 2024 dan Januari 2025.

Kompleksitas Sistem Robot Ace

Tingkat kompleksitas sistem Ace sangat tinggi. Robot ini tidak hanya membutuhkan reaksi yang sangat cepat untuk melacak bola, tetapi juga harus menentukan lintasan bola secara real-time menggunakan sembilan kamera dan tiga sistem penglihatan. Sistem ini mampu melacak bola dengan kecepatan 200 Hz dengan akurasi milimeter dan latensi sekitar sepuluh milidetik, sekaligus mengukur putaran bola hingga 700 Hz. Menurut postingan blog resmi Sony AI, hal ini cukup cepat untuk menangkap gerakan yang mungkin tampak kabur bagi mata manusia.

AI berbasis penguatan mendalam (deep reinforcement learning) memungkinkan Ace untuk memprediksi perilaku bola dan memilih strategi balasan yang tepat. Para pemain profesional pun mengakui sulitnya menghadapi robot ini. Mayuka Taira, pemain tenis meja profesional, mengatakan kepada Reuters bahwa sulit untuk mengetahui jenis pukulan apa yang tidak disukai atau dikuasai oleh Ace, sehingga membuatnya semakin sulit untuk dikalahkan.

Meskipun demikian, Dürr menekankan bahwa pemain profesional masih memiliki keunggulan, setidaknya untuk saat ini. Ia mengatakan bahwa pemain profesional sangat mahir dalam beradaptasi dengan lawan dan menemukan kelemahan, yang masih menjadi area yang perlu ditingkatkan oleh sistem AI saat ini.

Sumber: Futurism