Jaksa Agung Texas, Ken Paxton, melayangkan gugatan terhadap Netflix di Pengadilan Negeri Distrik Collin County pada Rabu (17/7). Gugatan tersebut menuduh platform streaming ini menyesatkan konsumen selama bertahun-tahun mengenai cara mengumpulkan data, melacak perilaku menonton, serta menangani akun pengguna anak-anak.
Menurut negara bagian, Netflix membangun sistem yang disebut sebagai program surveilans perilaku berskala besar tanpa memberikan informasi yang jelas kepada pengguna. Gugatan ini menuntut Netflix membayar denda perdata yang belum ditentukan, memberikan restitusi kepada konsumen, serta menghentikan praktik tersebut melalui perintah sementara dan permanen.
Texas berargumen bahwa Netflix secara berulang kali menyatakan dirinya sebagai alternatif yang berfokus pada privasi dibandingkan perusahaan teknologi berbasis iklan seperti Google dan Facebook. Tuduhan ini didasarkan pada pernyataan mantan CEO Netflix, Reed Hastings, yang menyatakan perusahaan tidak berniat memonetisasi dengan iklan dan tidak menjual data pengguna.
“Warga Texas mempercayai kesepakatan tersebut,” tulis gugatan itu. “Netflix melanggarnya dengan membangun sistem pengumpulan data yang justru ingin dihindari oleh para pelanggan.”
Petisi tersebut mengklaim Netflix telah membangun sistem canggih yang mampu mencatat miliaran peristiwa pengguna setiap hari. Data yang dikumpulkan meliputi apa yang ditonton, dicari, dijeda, dimundurkan, atau ditinggalkan pengguna, serta informasi perangkat dan lokasi. Negara bagian menuding Netflix menggunakan data tersebut untuk melatih algoritma dan mendukung ekspansi bisnis iklan yang semakin agresif.
Selain itu, Texas juga menuduh Netflix menyesatkan orang tua mengenai profil anak-anak. Meskipun dipasarkan sebagai ruang terpisah yang aman untuk anak-anak, Netflix tetap mengumpulkan informasi perilaku mendetail dari pengguna di bawah umur.
Menurut petisi, fitur autoplay dan sistem rekomendasi Netflix dirancang secara sengaja untuk mendorong kebiasaan menonton berlebihan dan memaksimalkan keterlibatan, terutama pada anak-anak. Fitur autoplay disebut sebagai “pola gelap” (dark pattern) yang dirancang untuk membuat pengguna tetap menonton lebih lama dan menghasilkan lebih banyak data.
Gugatan juga mengungkapkan bahwa setelah bertahun-tahun mengkritik iklan bertarget, Netflix akhirnya bermitra dengan perusahaan iklan dan data besar seperti Google Display Video 360, The Trade Desk, Experian, dan Acxiom. Kemitraan ini ditujukan untuk mendukung pencocokan identitas dan kemampuan iklan bertarget.
Hingga artikel ini diturunkan, Netflix belum memberikan tanggapan resmi atas gugatan tersebut.