Perintah Eksekutif Trump untuk Terapi Psikedelik
Pada Sabtu (14/9), Presiden Donald Trump menerbitkan perintah eksekutif yang bertujuan mempercepat pengobatan medis untuk gangguan mental serius. Langkah ini meliputi fasilitasi persetujuan regulasi terhadap ibogain dan zat psikedelik lain yang berpotensi sebagai katalis terapi psikologis.
Kebijakan yang Mengecualikan Mayoritas Pengguna
Meskipun alasan di balik perintah tersebut kuat, model medis yang didukung Trump justru mengecualikan sebagian besar penggunaan psikedelik. Zat-zat ini tetap ilegal di AS, kecuali digunakan untuk tujuan yang diakui pemerintah. Akibatnya, siapa pun yang menggunakan psikedelik tanpa diagnosis atau resep resmi berisiko dianggap sebagai pelanggar hukum.
Kisah Para Veteran yang Diabaikan
Banyak veteran perang, termasuk mantan Navy SEAL Marcus Luttrell, mengaku mendapatkan manfaat besar dari ibogain dalam mengatasi Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Luttrell menyatakan, "Ini benar-benar mengubah hidup saya menjadi lebih baik." Saudaranya, Morgan Luttrell (anggota DPR AS dari Partai Republik), juga mantan Navy SEAL, mengatakan, "Saya seperti dilahirkan kembali."
Sayangnya, karena ibogain dilarang di AS, kedua veteran tersebut harus menjalani terapi di klinik Meksiko. Begitu pula dengan 30 subjek dalam studi Nature Mental Health yang menemukan bahwa kombinasi ibogain dan magnesium dapat mengurangi PTSD, kecemasan, dan depresi pada veteran dengan cedera otak traumatis.
Psikedelik yang Akan Disetujui FDA
Penelitian terhadap ibogain masih terbatas, tetapi bukti untuk MDMA (untuk PTSD) dan psilosibin (untuk depresi) sudah cukup kuat. Keduanya bahkan telah ditetapkan sebagai terapi inovatif oleh FDA. Jika disetujui, hanya mereka yang memiliki diagnosis dan resep yang dapat menggunakannya secara legal.
Di Mana Nasib Mereka yang Tidak Memenuhi Syarat?
Menurut survei RAND Corporation tahun 2023, alasan utama penggunaan psilosibin meliputi:
- Kesenangan (59%)
- Kesehatan mental (49%)
- Pengembangan diri (45%)
- Rasa ingin tahu (43%)
- Pertumbuhan spiritual (41%)
Mayoritas pengguna ini tidak memenuhi syarat untuk pengecualian medis yang diusung Trump. Namun, alasan mereka tidak boleh dianggap sepele atau bahkan dikriminalisasi.
Kebebasan Bereksperimen vs. Larangan Hukum
Sebuah artikel dalam Cornell Law Review menyoroti bahwa larangan psikedelik dapat melanggar amandemen pertama Konstitusi AS mengenai kebebasan bereksperimen. Hak ini melindungi proses manusia dalam memperoleh pengetahuan dan pengalaman, termasuk melalui zat psikedelik.
Kesimpulan: Reformasi yang Belum Sempurna
Meskipun Trump mendorong terapi psikedelik untuk pengobatan medis, kebijakannya masih meninggalkan banyak pengguna di luar kerangka hukum. Larangan terhadap penggunaan psikedelik di luar konteks medis resmi tetap berlaku, sehingga banyak orang yang merasakan manfaatnya justru terancam hukuman.