Tucker Carlson kini meminta maaf karena selama bertahun-tahun mendukung Donald Trump. "Hanya mengatakan 'saya berubah pikiran' atau 'ini buruk, saya keluar' tidak cukup," ujarnya dalam podcast The Tucker Carlson Show pada Senin (21/4). "Saya ingin meminta maaf karena telah menyesatkan banyak orang."

Carlson mengaku akan "tersiksa dalam waktu lama" karena perannya dalam mempromosikan Trump hingga terpilih sebagai presiden. Dalam episode podcast tersebut, ia didampingi oleh adiknya, Buckley, yang menurut catatan acara pernah menulis pidato untuk Trump pada 2015. Buckley disebut memahami betapa menyakitkannya pengkhianatan ini.

Dukungan terhadap Trump disebut tidak disengaja, namun kenyataannya Carlson secara konsisten menyesatkan lebih dari 3,5 juta pemirsa di Fox News. Pada masa menjelang pemilu 2020, acaranya bahkan ditonton hingga 5 juta orang setiap malam.

Carlson kerap menyebarkan propaganda Trump, termasuk klaim tanpa bukti tentang "kecurangan pemilu signifikan" di Georgia pasca-2020. Ia juga kerap membuat pernyataan rasis dan anti-imigran, termasuk mendukung teori konspirasi great replacement, yang mengklaim imigran nonkulit putih didatangkan untuk menggantikan pemilih kulit putih dan melemahkan basis dana Partai Republik.

Pemicu Perubahan Sikap Carlson

Carlson mulai menunjukkan perubahan sikap setelah Trump menyerang Paus Leo XIV karena mengkritik keterlibatan AS dalam Perang Iran. Trump juga memposting serangkaian unggahan agama di Truth Social yang disebut Carlson "mempermalukan agama Kristen".

Beberapa minggu sebelumnya, Carlson secara terbuka mengkritik Trump dengan mengatakan, "Apakah ini antikristus? Siapa tahu? Setidaknya itulah kesimpulanku," dalam acara tanggal 15 April.

Apakah Ini Perubahan yang Tulus?

Carlson kini bergabung dengan sejumlah komentator konservatif lain yang tampaknya menyesali dukungan mereka terhadap Trump. Marjorie Taylor Greene, Candace Owens, Alex Jones, dan Megyn Kelly juga terlihat mulai menjauh dari Trump. Namun, apakah perubahan ini didasari oleh prinsip atau hanya oportunisme?

Para komentator ini tampaknya hanya melihat peluang bisnis baru. Mereka menggunakan taktik yang sama seperti Trump: mengubah arah demi keuntungan pribadi. Bisa dibilang, ini adalah versi terbaru dari the art of the deal.