Mengapa Cuti Pajak BBM Kembali Dibahas?

Kenaikan harga BBM belakangan ini memicu pembicaraan politik mengenai kemungkinan pemerintah memberlakukan cuti pajak federal untuk bahan bakar. Dorongan ini datang dari proposal populis sejumlah tokoh Demokrat ternama. Meski begitu, langkah ini jarang terealisasi meskipun sering muncul saat harga melonjak.

Proses dan Kendala Pelaksanaan

Cuti pajak BBM memerlukan persetujuan Kongres. Sejauh ini, proposal tersebut belum pernah disetujui. Namun, dengan kondisi ekonomi global yang tidak menentu dan pasokan minyak yang terus terhambat, arah kebijakan bisa berubah.

Dampak terhadap Konsumen

Menurut perkiraan, suspensi pajak sebesar 18,3 sen per galon untuk BBM dan 24,3 sen untuk solar akan memberikan sedikit kelegaan bagi konsumen. Namun, kenaikan harga hampir Rp 1,50 per liter sejak perang di Ukraina tidak akan sepenuhnya tertutupi.

Pada April lalu, ketika harga BBM masih di atas $4 per galon, Bipartisan Policy Center memperkirakan cuti pajak dapat menurunkan harga eceran sebesar 9-14% per galon. Namun, sebagian besar pengurangan ini tidak sepenuhnya dinikmati konsumen karena pemasok bahan bakar mengambil sebagian keuntungan.

Dampak terhadap Infrastruktur

Pajak BBM federal merupakan sumber utama dana untuk Highway Trust Fund, yang digunakan untuk pemeliharaan dan pengembangan infrastruktur transportasi sejak era Eisenhower. Oleh karena itu, banyak pihak yang skeptis terhadap gagasan cuti pajak ini.

Menurut proyeksi Bipartisan Policy Center, suspensi pajak selama lima bulan dapat mengurangi pendapatan negara sebesar $17 miliar, atau 46% dari perkiraan penerimaan fiskal tahun 2026. Hal ini juga berpotensi meningkatkan defisit anggaran federal hingga $12 miliar.

Siapa yang Mendukung dan Menentang?

Beberapa tokoh Demokrat, seperti James Talarico (calon senator Texas) dan Sen. Mark Kelly (Arizona), telah mengajukan proposal serupa. Kelly bahkan mengusulkan undang-undang pada Maret lalu.

Sementara itu, Rapidan Energy Group memperkirakan ada 25% kemungkinan Kongres menyetujui cuti pajak jika harga terus naik. Namun, pemerintahan saat ini belum mempertimbangkan opsi ini.

"Pemerintah terus mencari cara untuk meredam gejolak harga energi jangka pendek, tetapi cuti pajak BBM saat ini tidak menjadi prioritas," ujar seorang pejabat Gedung Putih.

Kesimpulan: Solusi Sementara atau Masalah Baru?

Cuti pajak BBM mungkin memberikan sedikit kelegaan bagi konsumen, tetapi dampaknya terhadap infrastruktur dan anggaran negara perlu dipertimbangkan secara matang. Tanpa solusi jangka panjang, kebijakan ini hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan akar permasalahan.

Sumber: Axios