WASHINGTON, D.C. — Kebijakan iklim Amerika Serikat kembali menjadi sorotan setelah serangkaian revisi hukum yang signifikan. Pada tahun 2022, Undang-Undang Pengurangan Inflasi (IRA) ditetapkan sebagai tonggak sejarah sebagai undang-undang iklim komprehensif pertama di negara tersebut. Namun, sebagian besar insentif pajak untuk energi terbarukan, seperti kredit pajak untuk panel surya, turbin angin, dan kendaraan listrik, kini telah dicabut melalui UU Pajak dan Belanja Terbaru yang disahkan pada tahun lalu.
Menurut analisis terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Reviews Clean Technology, dampak gabungan antara IRA dan UU terbaru tersebut masih menjadi tanda tanya. Meskipun demikian, para peneliti mulai melihat gambaran awal mengenai pengaruhnya terhadap campuran energi dan emisi karbon di AS.
Kredit Pajak yang Hilang dan Dampaknya
Kredit pajak untuk proyek energi terbarukan, yang semula direncanakan berlaku hingga tahun 2030-an, kini telah dihapus. Hal ini mencakup insentif untuk:
- Pembangunan proyek surya dan angin;
- Pembelian kendaraan listrik;
- Penyimpanan baterai skala besar;
- Energi nuklir dan panas bumi terbarukan.
Namun, beberapa insentif lain tetap dipertahankan, seperti subsidi untuk produsen baterai kendaraan listrik. Para pengembang energi terbarukan masih memiliki waktu hingga Juli 2024 untuk memulai konstruksi proyek mereka jika ingin memanfaatkan kredit pajak lama dari IRA.
Analisis Para Ahli
Studi terbaru ini melibatkan dua peneliti utama: John Bistline, kepala sains di startup teknologi iklim Watershed, dan Ryna Cui, profesor riset di Universitas Maryland. Mereka menilai bagaimana kedua undang-undang tersebut saling memengaruhi dan dampaknya terhadap emisi karbon di AS.
John Bistline menyatakan, "Meskipun ada perubahan besar dalam kebijakan, kami masih melihat tren penurunan emisi karbon di AS. Namun, laju penurunannya mungkin lebih lambat dibandingkan proyeksi awal."
Ryna Cui menambahkan, "Kebijakan ini memiliki dampak yang kompleks. Beberapa sektor, seperti energi terbarukan, mengalami hambatan, sementara sektor lain, seperti baterai kendaraan listrik, tetap tumbuh berkat insentif yang dipertahankan."
Masa Depan Kebijakan Iklim AS
Para ahli menekankan bahwa meskipun ada tantangan, transisi energi di AS masih berlanjut. Meskipun revisi hukum telah memperlambat beberapa kemajuan, investasi dalam teknologi bersih tetap menjadi prioritas nasional.
"Kami masih optimis bahwa AS dapat mencapai target pengurangan emisi yang telah ditetapkan," kata Cui. "Namun, diperlukan kebijakan yang lebih stabil dan konsisten untuk memastikan keberhasilan jangka panjang."
Studi ini memberikan wawasan penting bagi pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan lainnya dalam merancang strategi iklim yang lebih efektif di masa depan.