Internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern, mulai dari belanja daring, pembayaran tagihan, hingga rapat virtual. Namun, fakta mengejutkan menunjukkan bahwa hampir 30% populasi dunia masih belum memiliki akses terhadapnya. Laporan terbaru dari International Telecommunication Union mencatat lebih dari 2 miliar orang di seluruh dunia masih offline.
Untuk mengatasi kesenjangan digital ini, IEEE Future Networks meluncurkan program Connecting the Unconnected (CTU). Sejak 2021, komunitas teknis ini aktif mengembangkan, menstandarkan, dan menerapkan teknologi 5G, 6G, serta generasi internet masa depan guna memperluas jangkauan konektivitas.
Setiap tahun, CTU mengadakan kompetisi global untuk mencari inovator yang tengah mengembangkan teknologi atau aplikasi untuk meningkatkan akses internet. Program ini juga menyelenggarakan summit tahunan yang menghadirkan para ahli, pemimpin komunitas, dan pemangku kepentingan untuk membahas strategi perluasan akses dan inklusi digital.
Ekspansi Program CTU di Tahun 2023
Pada tahun lalu, CTU mengalami perkembangan signifikan. Program ini meluncurkan summit regional untuk fokus pada isu konektivitas lokal, menyelenggarakan acara berbasis komunitas, serta memperluas program mentoring untuk mendukung para pemenang kompetisi dan generasi berikutnya yang berperan dalam inovasi teknologi untuk kemanusiaan.
CTU juga menjalin kemitraan dengan IEEE Standards Association (IEEE SA) untuk mengembangkan panduan bagi inovasi yang diajukan. Program ini bertujuan menciptakan ekosistem yang lebih terintegrasi untuk meningkatkan visibilitas upaya-upaya dalam memperluas akses internet.
"IEEE Future Networks telah menciptakan komunitas untuk menyatukan berbagai inisiatif yang bekerja pada konektivitas digital dalam satu platform, serta memanfaatkan brand IEEE untuk meningkatkan visibilitas kerja mereka." — Sudhir Dixit, Ketua Bersama CTU dan Pendiri Basic Internet Foundation
Kompetisi Inovasi untuk Akses Internet yang Lebih Baik
Kompetisi CTU, yang diluncurkan pada 2021, setiap tahunnya menerima 200 hingga 300 proposal dari berbagai negara. Pada tahun lalu, tercatat 245 proyek dari 52 negara ikut serta. Peserta berasal dari kalangan akademisi, organisasi nirlaba, startup, hingga mahasiswa.
Proposal yang masuk dapat dikategorikan ke dalam tiga bidang, yaitu:
- Teknologi Aplikasi: Inovasi baru dalam metode konektivitas atau perluasan akses broadband.
- Model Bisnis: Solusi untuk meningkatkan keterjangkauan layanan internet.
- Pemberdayaan Komunitas: Strategi untuk mendorong adopsi broadband publik.
Setelah memilih kategori, peserta juga dapat memilih jalur berdasarkan tingkat kematangan proyek mereka:
- Bukti Konsep: Untuk teknologi tahap awal yang sudah berfungsi dan menghasilkan hasil.
- Konseptual: Untuk proyek yang masih dalam tahap teoretis dan belum diuji sepenuhnya.
Periode pengumpulan proposal tahun lalu berlangsung dari Maret hingga Juni, dengan tahap penilaian dari Juni hingga November. Pada Desember, 20 pemenang mempresentasikan solusi mereka dalam Winners Summit virtual. Empat belas proyek menerima dana hadiah dengan kisaran US$500 hingga US$2.500, sementara enam finalis lainnya mendapat penghargaan khusus.
Jumlah hadiah bervariasi setiap tahun tergantung pada sponsor yang terlibat.
Di antara proyek pemenang tahun lalu adalah jaringan broadband komunitas bertenaga surya di Tanzania dan solusi internet berbiaya rendah lainnya yang dirancang untuk menjangkau wilayah-wilayah terpencil.