Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS) kini tengah memasuki tahap akhir masa sidang tahun ini. Setelah mendengar argumen terakhir pada Rabu (24/4), para hakim hanya perlu menyelesaikan penulisan putusan, termasuk dissenting opinion, sebelum memulai libur musim panas pada awal Juli.

Dua isu utama yang mendominasi sisa kasus periode ini adalah demokrasi dan kekuasaan Presiden Donald Trump. Mahkamah baru saja memutuskan kasus yang memungkinkan pembatasan representasi kelompok minoritas di negara bagian selatan AS melalui redistricting. Selain itu, masih ada dua kasus pemilihan umum dan beberapa kasus yang melibatkan perluasan wewenang presiden yang akan diputuskan.

Kasus-Kasus Demokratis yang Menentukan

Mahkamah Agung baru saja mengeluarkan putusan dalam kasus Louisiana v. Callais, yang secara efektif melemahkan ketentuan Undang-Undang Hak Suara (Voting Rights Act) yang mengharuskan negara bagian untuk menetapkan distrik mayoritas minoritas. Dampaknya, sebanyak enam hingga dua belas kursi parlemen yang saat ini dipegang oleh anggota Kongres Demokrat dari kelompok minoritas berisiko diambil alih oleh politikus Republik kulit putih setelah redistricting.

Kasus lain yang menarik perhatian adalah National Republican Senatorial Committee (NRSC) v. FEC. Partai Republik meminta Mahkamah untuk mencabut batasan kontribusi dana partai, yang saat ini membatasi jumlah uang yang dapat dikeluarkan oleh Komite Nasional Demokrat (DNC) dan Komite Nasional Republik (RNC) dalam koordinasi dengan kandidat. Jika dikabulkan, keputusan ini akan memungkinkan para donatur kaya untuk memengaruhi jalannya pemilihan dengan lebih leluasa.

Kekuasaan Presiden Trump di Ujung Sidang

Mahkamah juga akan memutuskan beberapa kasus yang melibatkan upaya Presiden Trump untuk memperluas kekuasaan eksekutif. Salah satu teori hukum yang sering dibahas adalah unitary executive, yang memungkinkan presiden memberhentikan hampir semua pejabat federal. Meskipun teori ini telah lama didukung oleh mayoritas hakim konservatif, Mahkamah diperkirakan akan menolak klaim Trump yang ingin mencabut kewarganegaraan warga AS yang lahir di Amerika Serikat.

Isu Kontroversial: Senjata Api dan Hak LGBTQ

Selain kasus-kasus politik, Mahkamah juga akan memutuskan dua isu yang kerap memicu perdebatan sosial, yaitu hak atas senjata api dan hak kaum LGBTQ. Para pendukung senjata api kemungkinan akan merayakan putusan yang memperluas penafsiran Amendemen Kedua Konstitusi. Sementara itu, atlet transgender siswa diperkirakan akan menghadapi keputusan yang tidak menguntungkan.

Dengan berbagai kasus penting yang menanti, Mahkamah Agung AS tengah mempersiapkan diri untuk menyelesaikan tugasnya sebelum memasuki masa libur. Putusan-putusan yang akan dikeluarkan tidak hanya berdampak pada politik dalam negeri AS, tetapi juga akan membentuk arah kebijakan nasional di masa depan.

Sumber: Vox