Kabinet Presiden Donald Trump tampaknya kesulitan memahami ucapan kerasnya terhadap Paus Leo XIV. Sekretaris Negara Marco Rubio bahkan terpaksa membela bosnya dari tudingan media yang menyebut ucapan Trump tidak akurat.
Dalam pertemuan di Gedung Putih pada Selasa (6/5/2026), seorang reporter menanyakan kepada Rubio mengenai pernyataan Trump yang dianggap menuding paus membahayakan umat Katolik akibat retorikanya terkait perang Iran.
Reporter: "Apakah presiden baru-baru ini mengatakan bahwa paus membahayakan banyak umat Katolik akibat retorikanya mengenai perang Iran?"
Rubio langsung menyela dan membantah. "Saya rasa itu bukan deskripsi yang akurat dari apa yang dikatakan presiden," ujarnya. "Menurut saya, yang dimaksud presiden adalah Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir karena mereka akan menggunakannya melawan tempat-tempat yang dihuni banyak umat Katolik, Kristen, dan lainnya."
Namun, pernyataan Rubio ternyata keliru. Trump sendiri secara tegas mengatakan bahwa paus membahayakan umat Katolik.
"Saya pikir dia membahayakan banyak umat Katolik dan banyak orang," kata Trump dalam wawancara dengan pembawa acara radio konservatif Hugh Hewitt pada Senin (5/5/2026). "Tapi sepertinya menurut paus, tidak masalah jika Iran memiliki senjata nuklir."
Ucapan Trump tersebut langsung viral di media sosial. Sejumlah netizen membagikan potongan wawancara Trump yang memperkuat tudingan bahwa ia menyalahkan paus atas ancaman nuklir Iran.
Serangan Trump terhadap paus bukan kali pertama terjadi. Bulan lalu, ia menulis di Truth Social bahwa pemimpin agama itu "lemah dalam urusan keamanan dan buruk dalam kebijakan luar negeri."
Paus Leo XIV, yang berasal dari Chicago, sempat memicu kemarahan Trump dan para pengikutnya setelah menyerukan perdamaian dunia awal tahun ini. Pada Januari, Pentagon dilaporkan mengancam seorang duta besar Vatikan seusai Paus menyampaikan pidato antiperang dalam acara State of the World.
Meskipun demikian, paus menegaskan tidak takut terhadap pemerintahan Trump. "Saya tidak takut terhadap pemerintahan Trump maupun terhadap suara keras untuk menyebarkan pesan Injil," katanya dalam konferensi pers di pesawat pada April lalu. "Saya akan terus berbicara keras melawan perang, mendorong perdamaian, dialog, dan hubungan multilateral untuk mencari solusi adil atas masalah global. Terlalu banyak orang menderita di dunia ini. Terlalu banyak orang tak berdosa yang terbunuh. Seseorang harus berani mengatakan bahwa ada cara yang lebih baik."
Ironisnya, Iran hampir tidak memiliki stok uranium yang cukup untuk membuat senjata nuklir sebelum Trump menjabat. Pada 2018, tiga tahun setelah Presiden Barack Obama menandatangani kesepakatan JCPOA untuk membatasi pengayaan uranium Iran, negara tersebut hanya memiliki uranium yang tidak cukup untuk satu bom. Namun, setelah Trump menarik diri dari kesepakatan tersebut, Iran kembali mengembangkan program nuklirnya secara agresif.