Protes Mahasiswa: Hilang atau Ditekan?

Setiap kali terjadi peristiwa buruk di dunia, komentator politik kerap bertanya, "Di mana protes mahasiswa? Apakah hanya terjadi saat Biden menjabat?" Pertanyaan ini muncul karena protes mahasiswa yang sebelumnya aktif kini seolah menghilang. Alih-alih menyoroti isu-isu sosial, mereka justru disibukkan dengan pembahasan tentang tokoh kontroversial seperti Hasan Piker.

Kritik terhadap mahasiswa tak pernah berhenti. Baik karena mereka berprotes maupun tidak, mereka selalu dianggap sebagai pihak yang salah. Seorang penulis The Atlantic bahkan berkomentar, "Mungkin mahasiswa progresif seharusnya memulai revolusi" menyusul serangan Trump ke Iran. Kritik dari Jonathan Haidt hingga Jesse Watters pun menuding mahasiswa sebagai pihak yang tidak efektif dalam menyuarakan perlawanan.

Universitas dan Pemerintah: Penekan Utama Aktivisme Kampus

Faktanya, protes mahasiswa tidak hilang begitu saja. Mereka ditekan oleh universitas dan pemerintah federal melalui berbagai kebijakan keras. Data menunjukkan bahwa antara musim semi dan musim gugur 2024, jumlah protes kampus turun drastis hingga 64%. Setelah Trump kembali menjabat, tekanan semakin meningkat.

Banyak universitas memberlakukan aturan pembatasan kebebasan berbicara, seperti melarang penggunaan pengeras suara dan alat musik di area terbuka tanpa izin. Dosen-dosen yang terlibat protes juga menghadapi konsekuensi hukum dan administratif. Presiden universitas bahkan dipanggil ke Kongres untuk membuktikan kepatuhan mereka terhadap perintah eksekutif Trump yang membatasi kebebasan akademik.

Pengawasan dan Deportasi: Dampak terhadap Aktivis

Beberapa universitas, seperti Universitas California, Berkeley, bahkan menyerahkan data pribadi mahasiswa kepada pemerintah federal dengan alasan antisemitisme dan ancaman pencabutan dana. Mahasiswa yang mendukung Palestina, seperti Mahmoud Khalil dan Rumeysa Ozturk, diculik oleh ICE. Yang lain, seperti Momodou Taal, terpaksa meninggalkan negeri untuk menghindari nasib serupa.

Dosen-dosen yang terlibat dalam pendirian tenda-tenda protes dua tahun lalu, seperti di City University of New York dan New York University, kini masih menghadapi tuntutan pidana. Di Swarthmore College, mahasiswa bahkan bersiap menghadapi sidang pidana alih-alih fokus pada ujian akhir. Bagi mahasiswa imigran, risikonya lebih besar: komentar daring tentang Israel, Palestina, atau genosida bisa berujung pada pencabutan kartu hijau.

Protes Masih Berlanjut, Meski dengan Risiko Tinggi

Meskipun situasi semakin sulit, aktivisme mahasiswa tidak sepenuhnya padam. Pada 24 April, puluhan mahasiswa di Occidental College menerobos lapangan dengan membawa bendera Palestina dan mendirikan tenda-tenda murah seperti yang dilakukan aktivis di Columbia. Aksi ini menunjukkan bahwa meski tertekan, semangat perlawanan mahasiswa tetap hidup.

"Protes mahasiswa tidak hilang. Mereka ditekan oleh sistem yang takut akan suara-suara kritis."