Kokain dalam Air: Ancaman Tersembunyi bagi Salmon
Salmon yang terpapar kokain menunjukkan perilaku berbeda dibandingkan ikan yang tidak terpapar. Temuan ini berasal dari studi pertama yang meneliti dampak kokain pada ikan di alam liar, bukan dalam kondisi laboratorium.
Banyak badan air di seluruh dunia tercemar oleh berbagai zat legal maupun ilegal akibat konsumsi manusia. Limbah ini masuk ke sistem pembuangan dan akhirnya mengalir ke sungai, danau, serta laut. Saat permintaan global terhadap kokain meningkat, jejak zat ini—termasuk metabolit utamanya, benzoylecgonine—terdeteksi di perairan tempat salmon Atlantik hidup.
Penelitian sebelumnya di laboratorium telah menghubungkan paparan kokain dengan perubahan perilaku pada spesies akuatik. Namun, studi ini adalah yang pertama mengamati dampaknya pada ikan di lingkungan alami.
Dampak Kokain terhadap Salmon di Alam Liar
Menurut studi yang dipublikasikan di jurnal Current Biology pada Senin (22/7), kokain dan benzoylecgonine dapat terakumulasi di otak salmon Atlantik—spesies penting secara ekologis dan ekonomi—hingga mengganggu pergerakan dan penggunaan ruang oleh ikan tersebut di alam liar.
“Kami terdorong oleh kesenjangan besar dalam literatur ilmiah: hampir semua data tentang dampak pencemaran kokain terhadap perilaku hewan berasal dari pengamatan di laboratorium,” kata Michael Bertram, penulis studi dan profesor asosiasi di Departemen Studi Satwa Liar, Ikan, dan Lingkungan Hidup, Universitas Ilmu Pertanian Swedia, dalam email kepada 404 Media.
“Kami ingin tahu apakah paparan kokain dan metabolit utamanya, benzoylecgonine, dalam konsentrasi realistis lingkungan benar-benar mengubah cara ikan bergerak di alam liar di bawah kondisi ekologis dan lingkungan yang nyata,” tambahnya.
Metode Penelitian dan Temuan Mengejutkan
Untuk mengisi kesenjangan pengetahuan ini, Bertram dan timnya menggunakan lebih dari seratus ekor salmon Atlantik muda (smolt) berusia dua tahun yang dibesarkan di hatchery. Mereka membagi ikan-ikan tersebut menjadi tiga kelompok, masing-masing terdiri dari 35 ekor, dan memasang implan serta tag pelacak pada setiap ikan.
- Kelompok kokain: menerima implan pelepasan lambat kokain.
- Kelompok metabolit: menerima implan pelepasan lambat benzoylecgonine.
- Kelompok kontrol: menerima implan dummy tanpa zat kimia.
Ketiga kelompok ikan dilepaskan secara bersamaan pada 12 April 2022 di sisi barat daya Danau Vättern, Swedia, bersama 200 ekor smolt lainnya yang tidak terlibat dalam eksperimen. Selama dua bulan, kelompok yang terpapar menunjukkan pergerakan yang jauh lebih aktif dibandingkan kelompok kontrol. Kelompok metabolit bahkan berenang hingga 1,9 kali lebih jauh per minggu dibandingkan ikan yang tidak terpapar.
“Kami memang menduga paparan kontaminan akan memengaruhi pergerakan salmon, tetapi skala perubahan yang terlihat masih mengejutkan kami,” kata Bertram.
“Respons terkuat hampir dua kali lipat peningkatan pergerakan, dan hasil yang paling tidak terduga adalah benzoylecgonine—metabolit utama kokain—menghasilkan efek paling jelas dibandingkan kokain itu sendiri,” tambahnya.
Implikasi bagi Ekosistem dan Masa Depan Penelitian
Studi ini menyoroti ancaman pencemaran obat-obatan terlarang terhadap ekosistem perairan. Temuan bahwa metabolit kokain memiliki dampak lebih besar daripada kokain itu sendiri menimbulkan pertanyaan baru tentang bagaimana zat-zat lain di lingkungan dapat memengaruhi perilaku satwa liar.
Para peneliti menekankan pentingnya studi lanjutan untuk memahami dampak jangka panjang pencemaran obat-obatan terhadap ekosistem. Temuan ini juga dapat menjadi dasar bagi kebijakan pengelolaan lingkungan yang lebih ketat untuk mencegah pencemaran air oleh zat-zat berbahaya.