New Jersey dan Pennsylvania Siapkan Reformasi Listrik Skala Besar

Amerika Serikat tengah menyaksikan gelombang reformasi regulasi listrik yang berpotensi mengubah cara infrastruktur energi direncanakan dan dibiayai bagi lebih dari 65 juta penduduk. Dua negara bagian terbesar di pasar listrik terbesar negara itu—New Jersey dan Pennsylvania—kini tengah mempertimbangkan perubahan fundamental yang dapat menggantikan sistem lama yang selama ini dianggap tidak lagi sesuai dengan kondisi saat ini.

Di New Jersey, Gubernur Mikie Sherrill telah menjadikan harga listrik sebagai salah satu prioritas utama dalam kampanye 2025. Data dari Heatmap dan MIT’s Electricity Price Hub menunjukkan bahwa dalam empat tahun terakhir, harga listrik di negara bagian tersebut melonjak hingga 48%, sementara rata-rata tagihan bulanan penduduk meningkat dari $83 menjadi $130. Pada hari pertama menjabat, Sherrill segera menerbitkan dua perintah eksekutif untuk menindaklanjuti janji tersebut: menyediakan dana guna membekukan tarif dan menyatakan keadaan darurat untuk mempercepat pembangunan pembangkit listrik baru.

Salah satu langkah dalam perintah pertama tersebut adalah melakukan tinjauan terhadap model bisnis utilitas. Kini, rincian dari tinjauan tersebut mulai terungkap. Pada Rabu (12/6), New Jersey Board of Public Utilities (NJBPU) mengumumkan bahwa mereka akan mengevaluasi apakah model bisnis utilitas listrik yang telah berusia seabad—yang memberikan insentif bagi perusahaan distribusi listrik untuk melakukan pengeluaran modal tinggi meskipun terdapat alternatif yang lebih murah—perlu digantikan dengan kerangka kerja yang berfokus pada kinerja, keterjangkauan, dan stabilitas biaya jangka panjang.

NJBPU bahkan secara tegas menyatakan bahwa hasil studi ini “diharapkan dapat mendorong perubahan regulasi utilitas terbesar di New Jersey dalam beberapa dekade terakhir.” Ketua NJBPU, Christine Guhl-Savoy, dalam sebuah sidang pada Kamis (13/6), menjelaskan bahwa sistem saat ini “menciptakan insentif struktural yang mendorong solusi berbasis modal tinggi, meskipun solusi alternatif yang lebih murah—seperti non-wires atau permintaan sisi—tersedia.”

Biaya Distribusi Listrik di New Jersey Meningkat Tajam

Guhl-Savoy menambahkan bahwa struktur ini dapat menjelaskan mengapa “dalam satu dekade terakhir, biaya pengiriman listrik di New Jersey terus meningkat.” Dalam wilayah layanan PSEG, salah satu dari empat utilitas besar di New Jersey, biaya distribusi saja telah naik dari $19,24 per bulan pada Januari 2020 menjadi $21,84 pada April 2024. Sementara itu, biaya transmisi melonjak dari sekitar $20 menjadi lebih dari $29 per bulan.

Banyak kritikus sistem utilitas saat ini menuding tingginya pengeluaran lokal untuk distribusi sebagai cara bagi utilitas untuk meningkatkan keuntungan mereka melalui pengembalian yang dibebankan kepada konsumen. Dalam sistem yang tengah dieksplorasi oleh regulator, proyek-proyek baru akan mendapatkan penilaian yang lebih ketat, dan pembayaran konsumen akan sebagian ditentukan oleh pencapaian utilitas dalam mencapai target layanan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pennsylvania Juga Mengevaluasi Sistem Regulasi

Di seberang sungai Delaware, Gubernur Pennsylvania, Josh Shapiro, juga tengah menekankan pentingnya transparansi dan keterjustifikasian pengembalian modal yang diatur bagi utilitas. Dalam sebuah surat yang dikirimkan kepada utilitas di negaranya pada awal pekan ini, Shapiro menegaskan bahwa pengembalian modal tersebut harus “transparan” dan “dapat dipertanggungjawabkan.”

Direktur Eksekutif NJBPU, Bob Brabston, mengindikasikan bahwa proses tinjauan ini juga akan menelaah secara mendalam mengenai pengembalian modal yang diatur bagi utilitas. Langkah ini sejalan dengan upaya New Jersey untuk menciptakan sistem yang lebih efisien dan berorientasi pada kepentingan konsumen.

Masa Depan Infrastruktur Listrik yang Lebih Efisien

Reformasi yang tengah dipertimbangkan di New Jersey dan Pennsylvania ini merupakan respons terhadap dua tantangan utama: kenaikan harga listrik yang signifikan dan lonjakan permintaan akibat pertumbuhan pusat data. Dengan sistem yang lebih berfokus pada kinerja dan keterjangkauan, kedua negara bagian ini berharap dapat menciptakan infrastruktur listrik yang lebih efisien dan berkelanjutan bagi jutaan penduduknya.

“Sistem saat ini menciptakan insentif yang mendorong solusi berbasis modal tinggi, meskipun terdapat alternatif yang lebih murah.”
— Christine Guhl-Savoy, Ketua NJBPU

Dampak terhadap Konsumen dan Utilitas

Jika reformasi ini berhasil diterapkan, konsumen diharapkan akan mendapatkan manfaat berupa tarif listrik yang lebih stabil dan terjangkau. Di sisi lain, utilitas akan dituntut untuk lebih inovatif dalam mencari solusi hemat biaya, seperti pemanfaatan teknologi non-wires atau pengelolaan permintaan sisi.

Langkah ini juga dapat membuka peluang bagi pengembangan proyek-proyek energi terbarukan dan efisiensi energi, yang selama ini seringkali terhambat oleh sistem regulasi yang ada. Dengan demikian, reformasi ini tidak hanya berdampak pada stabilitas harga, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan.