Sebuah roket SpaceX yang sudah tak terpakai akhirnya akan mencapai permukaan Bulan—namun bukan dalam misi yang direncanakan. Menurut laporan terbaru, tahap atas roket Falcon 9 yang dibuang akan menabrak Bulan pada musim panas ini. Dampaknya berpotensi menciptakan kawah baru di permukaan satelit alami Bumi tersebut.

Meskipun tabrakan ini mungkin menarik secara ilmiah, para ahli lebih prihatin dengan dampaknya terhadap masa depan misi Bulan. "Ini tidak menimbulkan bahaya bagi siapa pun, tetapi menyoroti sikap ceroboh dalam membuang peralatan antariksa bekas," tulis Bill Gray, astronom yang menciptakan perangkat lunak Project Pluto untuk melacak objek dekat Bumi.

Laporan Gray, yang belum ditinjau oleh rekan sejawat, memprediksi tabrakan akan terjadi pada pukul 02.44 EDT tanggal 5 Agustus 2024. Lokasi tumbukan diperkirakan di dekat kawah Einstein, di sisi Bulan yang menghadap Bumi. Tahap atas roket Falcon 9 sepanjang 13,7 meter berasal dari misi yang meluncurkan dua pendarat Bulan, yaitu Blue Ghost milik Firefly dan Hakuto-R milik ispace, pada 15 Januari 2025.

Sejak diluncurkan, roket bekas tersebut terus mengorbit Bumi dalam jalur yang mirip dengan orbit Bulan. Dalam setahun terakhir, beberapa survei asteroid telah mengamati bagian roket ini lebih dari 1.000 kali. "Gerakan objek-objek ini sangat dapat diprediksi," kata Gray. "Kami memiliki data yang cukup untuk memproyeksikan lintasannya dengan yakin."

Gray menjelaskan bahwa lintasan roket dipengaruhi oleh gravitasi Bumi, Bulan, Matahari, dan planet-planet lain. "Kami mengetahui faktor-faktor ini dengan presisi tinggi," tambahnya. Namun, radiasi Matahari juga dapat memengaruhi pergerakan objek dengan cara yang kurang dapat diprediksi.

"Saat objek berputar, ia dapat menangkap lebih banyak atau lebih sedikit cahaya Matahari, serta memantulkannya ke berbagai arah. Dengan demikian, sinar Matahari mendorong objek menjauh dari Matahari, tetapi juga memberikan dorongan kecil ke arah lain."

Meskipun pengaruh Matahari tidak cukup signifikan untuk mengubah prediksi Gray secara drastis, hal ini membuat perkiraan waktu dan lokasi tumbukan tidak dapat dipastikan hingga hitungan meter atau detik. Saat menabrak Bulan, tahap atas roket ini akan melaju dengan kecepatan 2,43 kilometer per detik—tujuh kali kecepatan suara di Bumi.

Pada tahun 2022, Gray berhasil memprediksi tabrakan serupa ketika bagian roket bekas menabrak Bulan. Awalnya, para ilmuwan mengira itu adalah tahap atas roket Falcon 9, tetapi ternyata berasal dari misi Chang’e 5-T1 milik China. Tabrakan tersebut bahkan menciptakan kawah ganda, fenomena yang hingga kini masih menjadi misteri bagi para peneliti.

Para ahli menekankan bahwa insiden ini harus menjadi peringatan bagi ambisi manusia untuk mengeksplorasi Bulan lebih lanjut. Orbit Bumi semakin padat dengan sampah antariksa, sementara Amerika Serikat dan China semakin serius dalam membangun kehadiran manusia di Bulan. Risiko yang ditimbulkan oleh puing-puing antariksa buatan manusia pun semakin meningkat.

Sumber: Futurism