Rencana pembukaan sekolah menengah berbasis kecerdasan buatan (AI) di Manhattan, New York, resmi dibatalkan setelah mendapat penolakan luas dari orang tua, guru, dan masyarakat. Keputusan ini diumumkan oleh Kanselir Sekolah New York City, Kamar Samuels, yang menarik proposal pendirian Next Generation Technology High School.
Sekolah yang semula direncanakan dibuka pada awal tahun ajaran berikutnya itu, rencananya akan menjadi pusat pembelajaran teknologi AI. Namun, proposal tersebut sempat dijadwalkan untuk pemungutan suara pada Rabu minggu lalu. Bersamaan dengan itu, beberapa proposal pendirian sekolah lain juga dibatalkan karena mendapat kritikan serupa.
Kekhawatiran Dampak AI terhadap Siswa
Orang tua dan pendidik menentang keras rencana sekolah AI tersebut. Mereka khawatir bahwa sekolah ini akan memaksakan penggunaan teknologi yang belum terbukti manfaatnya kepada siswa. Meskipun dampak jangka panjang AI terhadap perkembangan kognitif dan efektivitasnya sebagai alat pembelajaran masih belum sepenuhnya diketahui, sejumlah penelitian menunjukkan dampak negatif jangka pendek.
Beberapa studi mengaitkan penggunaan AI dengan penurunan daya ingat jangka pendek dan atrofi kemampuan berpikir kritis. Para guru dan profesor umumnya sepakat dengan kekhawatiran ini. Menanggapi protes tersebut, Samuels memerintahkan Departemen Pendidikan Kota untuk menyusun panduan penggunaan AI di kelas. Namun, panduan yang dihasilkan, yang disebut sebagai AI Playbook, justru menuai kritikan karena dianggap menghindari isu-isu krusial dan tidak mampu meredakan kekhawatiran masyarakat.
Protes Massal di Depan Balai Kota
Awal bulan ini, sekelompok orang tua, guru, dan siswa berkumpul di depan Balai Kota New York untuk mendesak Walikota Mamdani agar mengabaikan rencana Kanselir Samuels dan memberlakukan moratorium dua tahun untuk penggunaan AI di kelas. Meskipun Walikota Mamdani belum menunjukkan minat terhadap usulan tersebut, sentimen anti-AI di kalangan masyarakat sangat kuat.
"Kemarahan yang luar biasa dari orang tua di New York City merupakan yang terbesar yang pernah saya saksikan dalam 25 tahun terakhir dalam isu pendidikan," ujar Leonie Haimson, seorang aktivis pendidikan dan anggota Koalisi untuk Moratorium AI.
Gregory Faulkner, ketua panel yang semula akan melakukan pemungutan suara untuk proposal sekolah AI, mengungkapkan bahwa sebagian besar email yang diterimanya dari orang tua berisi penolakan keras terhadap rencana tersebut. Ia yakin, jika pemungutan suara tetap dilakukan, tidak akan ada satu pun suara yang mendukungnya.
"Jika ada sesuatu yang bahkan sedikit berhubungan dengan AI, pasti akan ada penolakan keras. Masyarakat sangat cemas terhadap teknologi ini dan bagaimana penggunaannya," kata Faulkner.
Masalah Keadilan dan Akses
Selain kekhawatiran akan dampak AI, sekolah yang direncanakan berlokasi di kawasan keuangan Manhattan juga menuai kritik terkait masalah keadilan dan akses. Sebagai sekolah selektif, sekolah ini akan menerima siswa berdasarkan nilai akademik, sebuah sistem yang dikritik karena dapat memperburuk segregasi.
"Anak-anak dari keluarga kurang mampu dan anak-anak berkulit berwarna akan berada di satu sistem sekolah, sementara anak-anak dari keluarga kaya dan beruntung akan berada di sistem yang lain," jelas Faulkner.
Lokasi sekolah yang berada di kawasan elit kota juga dianggap bertentangan dengan misi yang diklaim sekolah tersebut, yaitu mempersiapkan anak-anak untuk dunia yang didominasi AI. "Jika teknologi ini benar-benar akan menjadi global, mengapa aksesnya harus eksklusif?" tanya Faulkner, sebagaimana dikutip oleh Chalkbeat.
Meskipun rencana sekolah AI ini telah dibatalkan, Kanselir Samuels menyatakan bahwa gagasan tersebut tidak sepenuhnya hilang. Ia berencana untuk meninjau kembali konsep tersebut di masa depan dengan mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak.