Keterlambatan Visa Dokter Asing Ancam Layanan Kesehatan Masyarakat
Ratusan dokter asing yang hampir menyelesaikan pelatihan di Amerika Serikat terancam harus meninggalkan negara tersebut karena pemerintah federal gagal memproses aplikasi visa mereka tepat waktu. Menurut para pengacara imigrasi, aplikasi visa waiver yang diajukan sejak musim gugur dan musim dingin lalu belum juga diproses hingga kini.
Program visa waiver yang dikelola oleh Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS) ini memungkinkan dokter asing untuk tetap tinggal di AS setelah masa pelatihan mereka berakhir. Sebagai gantinya, mereka diwajibkan untuk bekerja di daerah terpencil atau yang kekurangan tenaga medis selama minimal tiga tahun.
Dampak Keterlambatan terhadap Pasien dan Sistem Kesehatan
Seorang psikiater yang tengah menunggu keputusan visa mengatakan, "Yang paling menderita adalah pasien. Dalam tiga bulan ke depan, ratusan daerah akan kehilangan dokter yang seharusnya ada di sana." Dokter tersebut, yang tidak disebutkan namanya karena takut akan represali pemerintah, adalah salah satu dari ratusan dokter yang mengajukan permohonan J-1 visa waiver melalui Program Pertukaran Pengunjung HHS tahun ini.
Jika permohonan mereka disetujui, psikiater tersebut—yang menempuh pendidikan kedokteran di Eropa sebelum menjalani residensi dan fellowship di AS—akan memberikan layanan kesehatan kepada pasien yang rentan dan kurang mampu di New York. Dalam beberapa tahun terakhir, HHS biasanya menyelesaikan proses aplikasi dalam waktu satu hingga tiga minggu. Namun kini, terdapat ratusan aplikasi yang menumpuk dan masih menunggu untuk ditinjau oleh Departemen Luar Negeri serta disetujui oleh Layanan Kewarganegaraan dan Imigrasi AS (USCIS), menurut empat pengacara yang diwawancarai oleh KFF Health News.
Para pengacara tersebut memperingatkan bahwa dokter-dokter asing kemungkinan besar harus kembali ke negara asal mereka jika aplikasi mereka tidak sampai ke USCIS sebelum 30 Juli 2024. Untuk dapat kembali ke AS, rumah sakit atau klinik tempat mereka bekerja harus membayar biaya baru sebesar $100.000 untuk visa kerja H-1B. Biaya yang sangat besar ini menjadi beban yang tidak terjangkau bagi banyak rumah sakit dan klinik di daerah pedesaan atau yang kekurangan tenaga medis.
Ketidakpastian dan Dampak Ekonomi
"Inilah titik kritis yang sedang dihadapi," ujar Charles Wintersteen, seorang pengacara imigrasi yang berbasis di Chicago dan mengkhususkan diri dalam masalah tenaga kerja kesehatan. Ia menambahkan bahwa program pendidikan pascasarjana kedokteran sebagian besar didanai oleh Medicare, sehingga "warga negara yang membayar pajak tidak akan mendapatkan manfaat dari investasi tersebut."
Sementara itu, juru bicara HHS, Emily Hilliard, tidak memberikan jawaban mengenai jumlah aplikasi yang masih tertunda atau penyebab keterlambatan tersebut. Namun, ia menyatakan bahwa Program Pertukaran Pengunjung telah meninjau semua aplikasi clinical J-1 waiver untuk tahun fiskal 2025 serta beberapa aplikasi untuk tahun fiskal 2026. HHS juga sedang "menerapkan perbaikan proses kunci untuk mencegah keterlambatan di masa depan" dan "bekerja keras" untuk mengevaluasi aplikasi yang tersisa menjelang batas waktu 30 Juli.
Dokter yang tengah menunggu keputusan tersebut juga menjelaskan bahwa pemberi kerja yang merekrut dokter melalui program visa waiver harus membuktikan bahwa mereka tidak dapat mengisi posisi tersebut dengan tenaga medis lokal. Jika dokter yang direncanakan untuk dipekerjakan tidak dapat tiba tepat waktu—atau sama sekali—maka pasien akan semakin lama menunggu untuk mendapatkan layanan kesehatan yang seharusnya tersedia.
Tantangan bagi Daerah Terpencil
Keterlambatan ini juga menimbulkan dampak yang signifikan bagi daerah-daerah terpencil yang sudah kekurangan tenaga medis. Banyak rumah sakit dan klinik di wilayah tersebut mengandalkan dokter asing untuk memenuhi kebutuhan layanan kesehatan masyarakat. Tanpa adanya solusi cepat, ribuan pasien berisiko kehilangan akses terhadap perawatan medis yang sangat dibutuhkan.
Para ahli dan pengacara imigrasi mendesak pemerintah federal untuk segera mengambil tindakan guna memastikan bahwa aplikasi visa para dokter asing dapat diproses tepat waktu. "Waktu tidak lagi berpihak pada kami," kata seorang dokter yang tengah menunggu keputusan visa. "Setiap hari keterlambatan berarti semakin banyak pasien yang tidak mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan."