Krisis di Selat Hormuz belum kunjung usai. Harga minyak mentah kembali menembus angka $110 per barel, hampir menyamai level tertinggi sejak pecahnya perang di Iran. Sementara itu, dunia politik Amerika Serikat tengah disibukkan oleh kejadian lain yang lebih mendesak.
Serangan di Acara White House Correspondents' Dinner Picu Kontroversi Politik
Setelah serangan yang gagal di acara White House Correspondents' Dinner pada Sabtu (19/01/2025), pemerintahan Trump dan para pendukungnya segera memanfaatkan momen tersebut untuk mendorong agenda politik mereka. Dua tuntutan utama muncul dalam hitungan hari:
- Pembatalan penghalang konstruksi Ballroom East Wing: Presiden Trump dan Departemen Kehakiman mendesak agar semua upaya hukum untuk menghentikan pembangunan ballroom di Gedung Putih segera dihentikan. Meskipun selama ini Trump mengklaim proyek tersebut akan dibiayai swasta, beberapa anggota Kongres dari Partai Republik kini bersikeras agar pemerintah mengalokasikan dana ratusan juta dolar untuk pembangunannya.
- Pemecatan Jimmy Kimmel: Dua hari sebelum serangan, komedian Jimmy Kimmel membuat lelucon tentang Ibu Negara Melania Trump dengan mengatakan, "ia bersinar seperti seorang janda yang sedang hamil." Pada Senin (20/01/2025), Presiden Trump dan Melania menuduh Kimmel melakukan "panggilan untuk kekerasan" dan mendesak agar ia segera diberhentikan. Melania menulis di media sosial, "Orang-orang seperti Kimmel tidak seharusnya memiliki kesempatan untuk memasuki rumah-rumah kami setiap malam untuk menyebarkan kebencian. Sudah saatnya ABC mengambil sikap."
Ketidakhadiran Stephen Miller dalam Sorotan Publik
Di tengah keriuhan politik ini, satu sosok kunci menghilang dari sorotan publik: Stephen Miller, penasihat utama Presiden Trump. Miller dikenal sebagai arsitek utama kebijakan keras pemerintahan Trump, terutama dalam menangani isu-isu yang dianggap sebagai ancaman terhadap pemerintahan.
Setelah pembunuhan aktivis konservatif Charlie Kirk tahun lalu, Miller muncul sebagai figur sentral dalam gerakan perlawanan terhadap apa yang disebut pemerintahan Trump sebagai "terorisme domestik" dari kubu kiri. Ia kerap tampil di media sosial dan televisi dengan retorika yang tegas, bahkan apokaliptik. Namun, dalam beberapa hari terakhir, Miller sama sekali tidak terdengar suaranya, baik di media maupun dalam pernyataan resmi pemerintah.
Perbedaan Reaksi: Krisis Politik vs. Krisis Geopolitik
Sementara pemerintahan Trump fokus pada agenda domestik pasca-serangan di White House Correspondents' Dinner, krisis di Selat Hormuz—yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global—terabaikan. Selat Hormuz, sebagai jalur utama pengiriman minyak dunia, tetap menjadi titik rawan yang dapat memicu kenaikan harga minyak secara drastis.
Para pengamat politik menyoroti ketidakseimbangan dalam prioritas pemerintahan. Di satu sisi, pemerintahan Trump giat menanggapi insiden yang dianggap sebagai ancaman terhadap figur presiden dan keluarganya. Di sisi lain, krisis geopolitik yang melibatkan pasokan energi global seolah-olah tidak mendapatkan perhatian yang sepadan.
"Ketika pemerintahan fokus pada drama politik internal, krisis nyata di Selat Hormuz terus membayangi stabilitas ekonomi dunia. Harga minyak yang melonjak menunjukkan bahwa ancaman ini tidak bisa diabaikan begitu saja," ujar seorang analis energi.
Tantangan di Depan: Antara Stabilitas Politik dan Keamanan Energi
Kini, pertanyaan besar muncul: Di mana peran Stephen Miller dalam menangani krisis ini? Dengan Miller yang menghilang dari sorotan, pemerintahan Trump dihadapkan pada dua tantangan sekaligus—menjaga stabilitas politik domestik dan memastikan keamanan pasokan energi global.
Sementara itu, harga minyak yang terus melonjak menjadi pengingat bahwa krisis di Selat Hormuz bukan sekadar isu regional, melainkan ancaman bagi perekonomian dunia. Apakah pemerintahan Trump akan segera mengambil tindakan, ataukah krisis ini akan terus berlarut-larut tanpa solusi yang jelas?