Lululemon tengah menghadapi masa-masa sulit setelah mengumumkan pemilihan CEO baru, Heidi O’Neill. Pada akhir April, dewan direksi perusahaan mengumumkan bahwa pencarian pengganti Calvin McDonald—yang mundur secara tiba-tiba pada 2025 setelah enam tahun memimpin—telah berakhir. Namun, pengumuman O’Neill sebagai pengganti McDonald justru memicu reaksi negatif.
Saham Lululemon langsung anjlok, menandakan bahwa investor tidak yakin dengan pilihan tersebut. Banyak analis, termasuk penulis artikel ini, berpendapat bahwa menerapkan strategi Nike tidak akan menyelesaikan masalah keuangan Lululemon. Kritik bahkan datang dari pendiri perusahaan, Chip Wilson, yang memiliki pengaruh besar sebagai pemegang saham terbesar.
Wilson, yang mendirikan Lululemon pada 1998 dan meninggalkan perusahaan pada 2005, tidak pernah benar-benar lepas dari keterlibatannya. Ia pernah mengkritik kebijakan kepemimpinan McDonald dan, dalam postingan LinkedIn, menyerang dewan direksi karena memilih O’Neill. Menurutnya, Lululemon seharusnya mencari pemimpin yang “berjiwa revolusioner, kreatif, dan visioner” untuk mengubah status quo.
Wilson sendiri bukanlah sosok yang selalu benar. Ia pernah meminta maaf setelah mengatakan bahwa gesekan paha wanita menyebabkan kerusakan pada celana legging Lululemon—komentar yang dianggap merendahkan tubuh perempuan. Tahun lalu, ia juga mengkritik kebijakan inklusivitas Lululemon, dengan mengatakan bahwa perusahaan “menerima pelanggan yang tidak diinginkan.” Meskipun demikian, pandangannya tidak selalu salah.
Lululemon saat ini membutuhkan pembaruan besar, mirip dengan yang dialami Gap. Merek pakaian legendaris ini berhasil bangkit setelah mengalami penurunan penjualan selama bertahun-tahun. Bagaimana mereka melakukannya?
Strategi Gap yang Membawa Kebangkitan
Didirikan pada 1969, Gap mengalami masa-masa sulit dengan penjualan yang menurun. Namun, dalam dua tahun terakhir, merek ini berhasil mencuri perhatian dengan berbagai strategi pemasaran yang inovatif. Setiap musim, Gap meluncurkan kampanye iklan yang menampilkan selebritas ternama seperti Young Miko, Troye Sivan, dan Katseye.
Tidak hanya itu, Gap juga meluncurkan lini fashion tinggi bernama GapStudio, yang dirancang oleh desainer ternama Zac Posen. Lini ini telah menghiasi panggung merah dengan karya-karya yang dikenakan selebritas seperti Timothée Chalamet dan Anne Hathaway.
Kolaborasi dengan merek-merek ternama seperti Béis, Dôen, dan Victoria Beckham juga menjadi sorotan. Kolaborasi-kolaborasi ini tidak hanya laris, tetapi juga berhasil menarik perhatian publik.
Kunci Kesuksesan: Pemahaman Merek dan Kerja Keras
Menurut Mark Breitbard, Presiden dan CEO Gap Global, kebangkitan merek ini bukanlah keajaiban semata. Ia menekankan bahwa kesuksesan tersebut merupakan hasil dari kerja keras dan pemahaman mendalam terhadap merek.
Breitbard bukanlah orang luar dalam industri ini. Ia memulai kariernya di Old Navy dan Gap dari 2009 hingga 2013 sebagai chief merchant. Pada 2017, ia kembali untuk memimpin Banana Republic sebelum akhirnya mengambil alih posisi saat ini pada 2020. Saat itu, ia mewarisi perusahaan yang dalam kondisi buruk: terlalu banyak gerai yang tidak menguntungkan, persediaan berlebih yang menyebabkan diskon besar-besaran, dan kualitas pakaian yang menurun.
“Bisnis ini rusak,” kata Breitbard. “Kami harus memperbaiki setiap masalah ini satu per satu.”
Lululemon kini berada di persimpangan yang sama. Dengan tantangan yang dihadapi dan kritik yang datang dari berbagai pihak, apakah perusahaan ini dapat meniru kesuksesan Gap? Hanya waktu yang akan menjawabnya.