Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa kurang dari separuh publikasi hasil penelitian yang didanai oleh National Institutes of Health (NIH) di Amerika Serikat menganalisis atau melaporkan data berdasarkan jenis kelamin. Kondisi ini berisiko menyulitkan para ilmuwan dan masyarakat untuk memahami implikasi hasil penelitian bagi pria maupun wanita.
NIH telah mendorong inklusivitas gender dalam desain penelitian sejak lebih dari satu dekade lalu. Pada tahun 2014, lembaga tersebut menetapkan kebijakan untuk mempertimbangkan jenis kelamin sebagai variabel biologis (Sex as a Biological Variable/SABV) dalam setiap penelitian yang didanai. Kebijakan ini bersifat umum, mendorong peneliti untuk memasukkan SABV dalam desain, analisis, dan pelaporan studi, namun tidak mewajibkan adanya pemeriksaan perbedaan gender dalam hasil penelitian.
Menurut para peneliti yang terlibat dalam studi ini, kebijakan yang bersifat anjuran ini ternyata tidak cukup efektif. Hanya sekitar 42% studi yang diteliti memenuhi kriteria pelaporan data berdasarkan jenis kelamin, sementara sisanya tidak mencantumkan informasi tersebut secara memadai. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open.
Dr. Janine Clayton, Direktur Kantor Penelitian tentang Kesehatan Wanita di NIH, menyatakan bahwa meskipun kebijakan SABV telah diterapkan, implementasinya masih jauh dari harapan. "Kami menyadari bahwa perubahan dalam praktik penelitian membutuhkan waktu, tetapi kesenjangan ini menunjukkan perlunya upaya lebih keras untuk memastikan inklusivitas gender," ujarnya.
Para ahli juga menekankan bahwa kurangnya pelaporan data berdasarkan jenis kelamin dapat menyebabkan ketidaksetaraan dalam perawatan medis. Misalnya, dosis obat atau efektivitas terapi tertentu mungkin berbeda antara pria dan wanita, namun tanpa data yang memadai, rekomendasi medis yang dihasilkan bisa jadi tidak akurat atau tidak optimal bagi salah satu kelompok.
Dampak bagi Masa Depan Penelitian
Studi ini menyoroti tiga masalah utama dalam implementasi kebijakan SABV:
- Kurangnya kesadaran: Banyak peneliti tidak sepenuhnya memahami pentingnya melaporkan data berdasarkan jenis kelamin.
- Keterbatasan sumber daya: Beberapa peneliti menganggap analisis perbedaan gender memerlukan biaya dan waktu ekstra, sehingga diabaikan.
- Kurangnya akuntabilitas: Kebijakan yang bersifat anjuran tanpa sanksi tegas membuat banyak peneliti tidak memprioritaskan pelaporan jenis kelamin.
Para peneliti yang terlibat dalam studi ini mendesak NIH untuk memperketat aturan dan memberikan sanksi bagi studi yang gagal mematuhi kebijakan SABV. Selain itu, mereka juga menyarankan agar jurnal ilmiah turut berperan dengan mewajibkan pelaporan data berdasarkan jenis kelamin sebagai syarat publikasi.
Langkah Nyata untuk Perubahan
Beberapa langkah telah diusulkan untuk meningkatkan kepatuhan terhadap kebijakan SABV:
- Memperkenalkan pelatihan wajib bagi peneliti tentang pentingnya inklusivitas gender dalam penelitian.
- Memberikan insentif finansial bagi studi yang secara aktif menganalisis dan melaporkan data berdasarkan jenis kelamin.
- Mendorong kolaborasi antara peneliti, jurnal ilmiah, dan lembaga pendanaan untuk menciptakan standar pelaporan yang lebih ketat.
Dr. Clayton menambahkan, "Kami berkomitmen untuk memperbaiki situasi ini. Dengan kerja sama semua pihak, kami yakin dapat menciptakan penelitian yang lebih inklusif dan memberikan manfaat bagi seluruh populasi."