Pasar saham global kembali menunjukkan dominasi saham megacap dalam beberapa pekan terakhir. Pada 13 Mei, S&P 500 mencetak rekor tertinggi baru, didorong oleh kenaikan signifikan saham-saham teknologi raksasa seperti Nvidia (+2,84%) dan QQQ (+1,06%). Namun, di tengah euforia pasar saham, Bitcoin justru kehilangan level support krusialnya di $80.000 dan mencatatkan penurunan intraday hingga $78.759,70.

Fenomena ini menyoroti perbedaan fundamental antara Bitcoin dan saham megacap. Sementara saham-saham seperti Nvidia, Apple, dan Microsoft menikmati lonjakan harga akibat pertumbuhan pendapatan dari AI, pembelian kembali saham (buyback), dan panduan prospektif yang kuat, Bitcoin hanya mengandalkan likuiditas pasar untuk mendorong nilainya. Ketika likuiditas menyempit, aset kripto ini menjadi korban utama.

Mengapa S&P 500 Melonjak, Bitcoin Melemah?

Data menunjukkan bahwa pada sesi perdagangan 13 Mei, hanya 4 dari 11 sektor di S&P 500 yang ditutup positif. Meskipun indeks utama naik, mayoritas saham mengalami penurunan. Kondisi ini mencerminkan konsentrasi kenaikan yang sempit, di mana hanya saham-saham megacap yang mendominasi kinerja pasar.

Menurut Goldman Sachs, investasi AI diperkirakan akan menyumbang sekitar 40% dari pertumbuhan laba per saham (EPS) S&P 500 tahun ini. Selain itu, perusahaan infrastruktur cloud terbesar berencana untuk menghabiskan hingga $670 miliar pada 2026 untuk pengembangan AI. Hal ini membuat saham megacap semakin menarik bagi investor, terutama dalam kondisi suku bunga yang masih tinggi.

Sebaliknya, Bitcoin tidak memiliki mekanisme pendapatan atau dividen. Nilai Bitcoin sangat bergantung pada likuiditas pasar. Ketika likuiditas menyempit akibat kenaikan suku bunga atau tekanan inflasi, Bitcoin cenderung mengalami penurunan signifikan. Laporan PPI April yang menunjukkan kenaikan harga produsen sebesar 1,4% secara bulanan dan 6% secara tahunan semakin menekan Bitcoin. Kenaikan inflasi ini mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed, yang pada gilirannya meningkatkan imbal hasil obligasi dan nilai tukar dolar.

Bitcoin Masih Berkorelasi dengan Pasar Saham, Tapi Tanpa Keuntungan yang Setara

Analisis dari K33 menunjukkan bahwa korelasi 30 hari Bitcoin dengan Nasdaq tetap di atas 0,7, artinya Bitcoin masih bergerak dalam siklus makro yang sama dengan pasar saham. Namun, dalam periode ketika Nasdaq naik lebih dari 10% dalam 30 hari perdagangan, Bitcoin sering kali gagal mengikuti kenaikan tersebut.

Data menunjukkan bahwa dari 30 Maret hingga 13 Mei, Nvidia melonjak sebesar 45%, QQQ naik 28%, sementara Bitcoin hanya naik 4% sebelum akhirnya kehilangan support di $80.000. Hal ini menunjukkan bahwa Bitcoin tidak memiliki upside beta yang memadai untuk mengikuti kenaikan pasar saham yang didorong oleh fundamental kuat seperti AI dan pertumbuhan laba.

"Bitcoin saat ini berperan sebagai aset likuiditas, bukan aset pertumbuhan. Ketika likuiditas menyempit, Bitcoin akan mengalami tekanan, sementara saham megacap dengan fundamental kuat justru akan semakin diminati," ujar seorang analis pasar.

Implikasi untuk Investor

Kondisi ini memberikan pelajaran penting bagi investor. Bitcoin, yang selama ini dianggap sebagai aset alternatif yang tidak berkorelasi dengan pasar saham, ternyata masih sangat dipengaruhi oleh siklus makro ekonomi. Ketika pasar saham didorong oleh pertumbuhan fundamental seperti AI dan laba perusahaan, Bitcoin justru tertinggal karena tidak memiliki mekanisme pendapatan yang sama.

Bagi investor yang mencari perlindungan terhadap inflasi atau ketidakpastian ekonomi, Bitcoin mungkin masih menjadi pilihan. Namun, dalam kondisi pasar yang didominasi oleh saham megacap dengan fundamental kuat, Bitcoin cenderung mengalami volatilitas yang lebih tinggi tanpa imbal hasil yang sebanding.