Ancaman terhadap Kedaulatan Moneter

Pertumbuhan pesat stablecoin, terutama yang dipatok ke dolar AS, kini dianggap sebagai ancaman serius bagi kedaulatan bank sentral. Pablo Hernández de Cos, Direktur Jenderal Bank for International Settlements (BIS), menyampaikan kekhawatirannya dalam pidato di Bank of Japan, Senin (14/7).

Menurut Cos, negara-negara dengan ekonomi berkembang dan pasar yang sedang tumbuh menjadi pihak yang paling rentan terdampak fenomena yang disebutnya sebagai ‘dollarisation’.

Jika warga di negara-negara tersebut mulai menggunakan token yang dipatok ke dolar dalam skala besar, bank sentral lokal akan kehilangan kendali atas kebijakan moneternya. Contohnya, bank sentral Nigeria—yang wilayahnya mengalami adopsi stablecoin dengan cepat—tidak memiliki pengaruh terhadap kebijakan The Fed di Amerika Serikat.

"Stablecoin yang dipatok ke mata uang asing dapat semakin mengganggu transmisi kebijakan moneter dan kedaulatan moneter, terutama jika transaksi, harga, dan upah mulai ditetapkan dalam mata uang asing," ujar Cos.

Alasan Adopsi Stablecoin Mirip dengan Sejarah Dolar AS

Cos menjelaskan, alasan masyarakat di negara berkembang beralih ke stablecoin serupa dengan alasan historis penggunaan dolar AS. Sebagai mata uang cadangan global yang relatif stabil, dolar telah lama menjadi pilihan di negara-negara dengan inflasi tinggi dua digit.

Ledakan Pasar Stablecoin dalam Dua Tahun Terakhir

Data dari DefiLlama menunjukkan bahwa nilai pasar total stablecoin yang beredar meningkat lebih dari 100% dalam dua tahun terakhir, mencapai lebih dari $320 miliar. Sebagian besar—tepatnya 99,6%—dipatok ke dolar AS.

Pertumbuhan ini didorong oleh dua faktor utama: undang-undang stabilcoin di AS yang disahkan Presiden Donald Trump dan tren pasar bullish pada tahun lalu. Pada Juli 2025, Trump menandatangani Genius Act, peraturan pertama di AS yang mengatur penerbitan dan pengelolaan stablecoin.

Namun, pertumbuhan ini melambat setelah harga Bitcoin anjlok dari $126.000 menjadi $62.000. Pada periode Januari hingga Oktober 2025, stablecoin berhasil menarik lebih dari $100 miliar. Namun, sepanjang tahun ini, token fiat hanya menarik kurang dari $12 miliar.

Tantangan Baru bagi Bank Sentral

Meskipun demikian, Cos menekankan bahwa stablecoin tetap menjadi perhatian serius bagi para ahli keuangan. "Uang bukan sekadar teknologi, melainkan pencapaian institusional yang bergantung pada kepercayaan terhadap kerja sama domestik dan internasional," katanya.

Menurut Cos, stablecoin menghadirkan tiga tantangan baru bagi bank sentral:

  • Risiko dollarisation: Stablecoin yang dipatok ke dolar dapat dengan mudah diakses oleh siapa pun dengan perangkat internet, terutama di negara dengan akses dolar terbatas.
  • Devaluasi mata uang lokal: Masyarakat yang menjual mata uang lokal untuk stablecoin dapat menciptakan premi pada dolar digital, sekaligus memperburuk depresiasi mata uang lokal.
  • Peluang penghindaran kontrol modal: Stablecoin memudahkan pelaku pasar untuk menghindari kontrol modal, yang berpotensi meningkatkan volatilitas aliran modal.

"Kerja sama internasional sangat penting. Tanpa itu, perbedaan regulasi stablecoin antar negara dapat menyebabkan fragmentasi pasar yang parah atau memungkinkan arbitrase regulasi yang merugikan," pungkas Cos.

Sumber: DL News