Di tengah meningkatnya tren anti-serikat pekerja di berbagai perusahaan besar seperti Amazon, Starbucks, dan Apple, pandangan berbeda datang dari Judy Marks, Ketua, CEO, dan Presiden Otis Worldwide Corp. Otis, perusahaan yang memproduksi, memasang, hingga memodernisasi lift dan eskalator, memiliki 64% karyawan di Amerika Serikat yang tergabung dalam perjanjian kerja bersama (PKB) serikat pekerja. Bahkan, sebagian besar karyawan internasional Otis juga bekerja di bawah kontrak serikat.

Menurut Marks, keberadaan serikat pekerja memberikan kepastian yang sangat berharga di tengah dinamika bisnis yang tidak menentu. "Sebagai seorang CEO, saya tentu menginginkan prediktabilitas dalam setiap aspek bisnis. Namun, hal ini menjadi sangat penting dalam urusan tenaga kerja, yang merupakan aspek krusial bagi kami," ujarnya.

Otis mempekerjakan total 72.000 karyawan, dengan 45.000 di antaranya adalah pekerja lapangan yang bertugas memasang, memperbaiki, dan merawat lift dan eskalator. Selain memberikan jaminan mengenai biaya dan ketersediaan tenaga kerja, Marks menekankan bahwa serikat pekerja juga turut memperkuat budaya keselamatan di perusahaan.

PKB Otis dengan International Union of Elevator Constructors, serikat multi-perusahaan yang mencakup pekerja di Amerika Serikat dan Kanada, mencakup aturan ketat mengenai penanganan peralatan di lokasi kerja serta langkah-langkah tambahan untuk melindungi keselamatan karyawan dan masyarakat umum. "Memiliki seperangkat aturan yang konsisten di seluruh Amerika Serikat dan Kanada sangat penting untuk melindungi keselamatan rekan kerja, mekanik, serta pengguna lift," jelas Marks.

Kolaborasi Serikat Pekerja dan Teknologi AI

Menanggapi dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap karyawan lapangan Otis, Marks menekankan bahwa perusahaan telah menggunakan perangkat lunak prediktif selama bertahun-tahun untuk mendukung tim lapangan. Ia meyakinkan bahwa AI tidak akan menggantikan pekerjaan karyawan, melainkan meningkatkan produktivitas mereka.

"Saya melihat mereka dan berkata, 'Anda akan tetap memiliki pekerjaan. Anda akan memiliki kesempatan yang bermakna,'" ujar Marks. Visi yang diusung Otis adalah pendekatan human-led and AI-enabled, di mana AI berfungsi sebagai alat bantu untuk meningkatkan efisiensi tanpa mengurangi peran manusia.

Sebagai contoh, Otis telah menerapkan alat yang memberikan informasi kepada mekanik mengenai prioritas layanan mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Perangkat lunak virtualisasi juga digunakan untuk mengoptimalkan perawatan dan pemeliharaan lift serta eskalator.

"Kami percaya bahwa teknologi AI dapat membantu karyawan kami bekerja lebih cerdas, bukan lebih keras. Dengan demikian, kami dapat memastikan keselamatan dan produktivitas tetap terjaga," tegas Marks.

Perusahaan ini juga terus berinvestasi dalam pelatihan karyawan untuk memastikan mereka siap menghadapi perubahan yang dibawa oleh perkembangan teknologi. Marks menekankan pentingnya kolaborasi antara manajemen dan serikat pekerja dalam menghadapi tantangan masa depan, termasuk adopsi AI.