Hakim Agung Ketanji Brown Jackson (KBJ) kini tengah menjadi sorotan karena gaya berargumennya yang dinilai tidak biasa. Julukan "Notorious RBG" yang melekat pada mantan koleganya, Hakim Agung Ruth Bader Ginsburg, rupanya tidak sepenuhnya cocok untuk Jackson. Jika RBG dikenal dengan ketegasan dan pengaruhnya, Jackson justru lebih dikenal karena kecenderungannya untuk membuat orang lain bekerja lebih keras—tanpa hasil yang berarti.
Gaya Jackson yang "melelahkan" ini telah menimbulkan berbagai reaksi. Ia berbicara lebih banyak daripada hakim lainnya dalam sidang-sidang Mahkamah Agung periode ini. Menurut analisis Adam Feldman pada Maret lalu, Jackson telah mengucapkan lebih dari 53.000 kata selama sidang. Angka ini jauh melampaui rekan-rekannya, seperti Hakim Sonia Sotomayor (35.000 kata) dan Elena Kagan (30.000 kata).
Jika digabungkan, kata-kata yang diucapkan oleh Ketua Mahkamah Agung John Roberts, Hakim Clarence Thomas, dan Hakim Amy Coney Barrett hanya mencapai sekitar 48.000 kata—masih lebih sedikit daripada Jackson seorang diri. Bahkan, jika ditotal kata-kata Hakim Brett Kavanaugh dan Neil Gorsuch (52.198 kata), jumlahnya masih kalah dari Jackson.
Feldman juga mencatat, dalam sembilan dari sepuluh sidang terpanjang periode ini, Jackson memiliki porsi kata tertinggi di antara para hakim. Artinya, lebih dari satu dari empat kata yang diucapkan hakim berasal dari Jackson. Dominasi semacam ini bukanlah hal yang lumrah.
Dulu, ketika Hakim Stephen Breyer berbicara panjang lebar, setidaknya hal itu dianggap menghibur. Namun kini, banyak yang justru melewatkan bagian audio saat Jackson mulai bertanya, karena dianggap tidak efisien. Sayangnya, hakim lainnya tidak memiliki pilihan itu. Para reporter melaporkan, ketika Jackson mulai mengajukan pertanyaan panjang, rekan-rekannya terlihat lelah, menghela napas, dan bahkan tampak tidak fokus.
Tak hanya itu, Jackson juga dikenal dengan dissenting opinion yang sering kali sendirian. Dalam beberapa kasus, posisinya begitu ekstrem sehingga bahkan hakim progresif seperti Sotomayor dan Kagan enggan untuk bergabung. Baru-baru ini, Jackson sendirian menuduh mayoritas hakim Mahkamah Agung bersikap partisan—hingga memicu reaksi keras dari Hakim Samuel Alito, yang menulis concurrence untuk menanggapi dissent tersebut.
Jackson juga menuai kritik karena lambat dalam menangani permohonan darurat. Dalam kasus Libby v. Fectau, ia memakan waktu lama untuk meminta tanggapan pihak lain, padahal akhirnya Mahkamah Agung tetap memberikan bantuan darurat. Bandingkan dengan Hakim Alito, yang cepat memberikan administrative stay dan segera meminta tanggapan dalam kasus Mifepristone.
Dengan segala kontroversi yang menyertainya, tak heran jika ada yang menjuluki Jackson sebagai "KBJ yang Melelahkan". Julukan ini mencerminkan betapa dominannya Jackson dalam sidang, namun juga minimnya dampak nyata dari gaya bicaranya yang panjang dan kadang tidak produktif.