Pada pemungutan suara 4-3, Mahkamah Agung Virginia baru-baru ini membatalkan peta kongres negara bagian yang baru disahkan. Peta tersebut dirancang untuk memberikan keuntungan bagi Partai Demokrat dengan menambah empat kursi di kongres setelah pemilu pertengahan tahun 2024 mendatang. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap praktik pemetaan partisan yang dilakukan oleh Partai Republik di negara bagian lain seperti Texas.

Baik opini mayoritas maupun dissenting opinion dalam kasus Scott v. McDougle terfokus pada penafsiran kata "pemilu" dalam konstitusi Virginia. Namun, kedua belah pihak gagal menyajikan argumen yang meyakinkan. Masing-masing mampu mengutip berbagai sumber, mulai dari kamus, sejarah, hingga preseden hukum, untuk mendukung penafsiran mereka. Pendekatan tekstualisme ternyata tidak banyak membantu dalam menyelesaikan perselisihan ini.

Alih-alih menyajikan dua opini yang saling bertentangan dan membingungkan, para hakim seharusnya mengajukan pertanyaan mendasar: apa tujuan sebenarnya dari ketentuan konstitusi Virginia tersebut?

Proses Amendemen Konstitusi yang Menjadi Sorotan

Kasus ini berpusat pada ketentuan konstitusi Virginia mengenai amendemen. Menurut konstitusi, untuk mengamendemen konstitusi, legislatif negara bagian harus terlebih dahulu menyetujui usulan amendemen. Setelah itu, amendemen tersebut harus disetujui lagi oleh legislatif berikutnya setelah pemilu umum anggota Dewan Delegasi. Baru setelah itu, amendemen diajukan kepada pemilih untuk disetujui melalui referendum. Jika mayoritas pemilih menyetujui, amendemen tersebut resmi menjadi bagian dari konstitusi.

Pada tahun 2020, Virginia menggunakan proses ini untuk mengamendemen konstitusinya guna menerapkan perlindungan terhadap praktik pemetaan partisan. Namun, dalam kasus Scott, terdapat amendemen lain yang disetujui oleh pemilih awal tahun ini. Amendemen ini secara sementara mengesampingkan amendemen tahun 2020, memungkinkan negara bagian untuk menyusun ulang peta kongres guna menyeimbangkan praktik pemetaan partisan yang dilakukan oleh Partai Republik di negara bagian lain.

Kontroversi atas Waktu Proposal Amendemen

Mayoritas hakim Mahkamah Agung berpendapat bahwa amendemen tersebut tidak sah. Alasannya, legislatif negara bagian mengajukan proposal amendemen pada Oktober 2025, ketika proses pemungutan suara awal telah dimulai. Menurut mayoritas hakim, hal ini menyebabkan sekitar 1,3 juta pemilih Virginia telah memberikan suara mereka sebelum proposal amendemen diajukan. Akibatnya, para pemilih tersebut dinilai tidak memiliki kesempatan untuk mengekspresikan dukungan atau penolakan terhadap amendemen saat memilih legislatif negara bagian.

Secara sederhana, mayoritas hakim berargumen bahwa pemilih yang menentang amendemen tersebut mengalami pembatasan hak suara karena tidak dapat memilih legislator yang menentang amendemen tersebut. Kritik terhadap putusan ini muncul karena dianggap lebih menekankan pada aspek teknis daripada substansi keadilan pemungutan suara.

Sumber: Vox