Pemerintah AS Resmi Turunkan Status Mariyuana

Pemerintah Amerika Serikat akhirnya mengambil langkah signifikan terkait status mariyuana. Pada pagi hari ini, Jaksa Agung Sementara Todd Blanche menandatangani perintah untuk menurunkan status mariyuana yang disetujui FDA dan berlisensi negara bagian dari Schedule I—kategori paling ketat dalam sistem klasifikasi obat federal—menjadi Schedule III, yang lebih longgar.

Keputusan ini disambut sebagai pencapaian penting dalam pemerintahan Presiden Donald Trump. Blanche menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan layanan kesehatan masyarakat Amerika. Ia menulis di platform X (sebelumnya Twitter), "Di bawah kepemimpinan tegas @POTUS, Departemen Kehakiman ini menepati janjinya untuk meningkatkan layanan kesehatan Amerika. Ini termasuk:"

  • Segera menurunkan status mariyuana yang disetujui FDA dan berlisensi negara bagian dari Schedule I ke Schedule III
  • Memerintahkan peninjauan ulang terhadap kebijakan terkait

Keputusan ini tidak melegalkan penggunaan mariyuana secara nasional. Namun, dampaknya cukup signifikan:

  • Peneliti yang didanai pemerintah federal akan lebih mudah mengakses mariyuana untuk studi ilmiah.
  • Bisnis mariyuana yang berlisensi negara bagian dapat mengajukan pengurangan pajak federal.

Latar Belakang dan Tekanan Politik

Keputusan ini muncul setelah laporan bahwa Gedung Putih mendesak lembaga federal untuk segera menurunkan status mariyuana. Pada Desember 2025, Presiden Trump bahkan mengeluarkan perintah agar mariyuana dipindahkan dari Schedule I ke Schedule III "dengan cara tercepat yang mungkin". Namun, hingga Hari Mariyuana (20 April) berlalu, tidak ada tindakan yang diambil. Dilaporkan bahwa hal ini membuat Presiden Trump marah dan memerintahkan percepatan proses.

Menurut analis Jacob Sullum dalam kolomnya bulan Desember, dampak praktis dari penurunan status ini terbatas. Namun, setidaknya pemerintah mengakui bahwa selama lima dekade terakhir, pemerintah federal telah melebih-lebihkan bahaya mariyuana dan mengabaikan potensi manfaatnya. Meskipun demikian, perubahan ini tidak menyelesaikan konflik antara larangan federal dengan hukum negara bagian yang mengizinkan penggunaan mariyuana untuk keperluan medis atau rekreasi.

Bailout Spirit Airlines: Bantuan Rp7,5 Triliun dari Pajak Warga

Sementara itu, pemerintahan Trump dilaporkan tengah mempersiapkan dana talangan senilai $500 juta atau sekitar Rp7,5 triliun untuk maskapai Spirit Airlines yang tengah kesulitan keuangan. Politico melaporkan bahwa pemerintah dan maskapai tersebut sedang dalam pembicaraan lanjutan untuk kesepakatan yang memungkinkan pemerintah memiliki hingga 90% saham Spirit Airlines.

Pemerintah sejauh ini bersikap tertutup mengenai rencana ini. Seorang juru bicara hanya menyatakan bahwa kondisi keuangan Spirit akan lebih stabil jika pemerintahan Biden tidak memblokir rencananya untuk bergabung dengan JetBlue, maskapai penerbangan hemat biaya lainnya.

Namun, alasan tersebut tidak cukup untuk membenarkan pemerintah menggelontorkan dana publik dalam jumlah besar. Menurut Gary Leff dari View From the Wing, dana talangan ini tidak hanya ilegal tetapi juga akan membuat masalah keuangan Spirit menjadi beban wajib pajak. Ia menegaskan, "Dana talangan membuat Spirit Airlines tidak lagi menjadi maskapai dengan tarif rendah. Anda akan membayar lebih untuk Spirit, baik Anda terbang dengan mereka atau tidak."

Marc Scribner, pakar kebijakan transportasi dari Reason Foundation, menambahkan bahwa mengubah maskapai hemat biaya menjadi anak perusahaan pemerintah akan merusak persaingan ketat di industri penerbangan. Ia menekankan, model maskapai hemat biaya (LCC/ULCC) sangat sensitif terhadap fluktuasi pasar. Fleksibilitas masuk dan keluar pasar inilah yang membuat harga tiket tetap kompetitif dan terjangkau bagi masyarakat.

Dampak terhadap Industri Penerbangan dan Konsumen

Jika dana talangan ini disetujui, dikhawatirkan akan mengganggu prinsip persaingan sehat. Maskapai hemat biaya seperti Spirit beroperasi dengan model bisnis yang memungkinkan tarif rendah dengan mengurangi layanan tambahan. Bantuan pemerintah dapat mengubah model ini, sehingga tarif menjadi lebih tinggi dan mengurangi pilihan bagi konsumen.

Para ahli mendesak pemerintah untuk mempertimbangkan kembali keputusan ini. Dana talangan tidak hanya berisiko melanggar hukum, tetapi juga dapat menciptakan preseden buruk dalam intervensi pemerintah terhadap pasar bebas.

Sumber: Reason