Industri farmasi di Amerika Serikat tengah dihadapkan pada sejumlah isu krusial yang memicu perdebatan publik. Mulai dari kampanye iklan kontroversial hingga penolakan regulasi yang meningkat, dinamika ini berpotensi membentuk masa depan pengobatan inovatif di negara tersebut.
PhRMA Serang Program 340B dengan Kampanye Iklan Senilai Jutaan Dolar
Asosiasi produsen obat terbesar di AS, Pharmaceutical Research and Manufacturers of America (PhRMA), akan meluncurkan kampanye iklan bernilai jutaan dolar pada Rabu (11/6) untuk mengkritik Program Harga Obat 340B. Program ini mewajibkan produsen obat untuk memberikan diskon besar kepada rumah sakit dan klinik yang melayani pasien berpenghasilan rendah atau tidak diasuransikan.
Dalam iklan 30 detik yang disiapkan, digambarkan bagaimana para administrator rumah sakit nonprofit fiktif menyalahgunakan program ini. Dana yang seharusnya digunakan untuk pasien justru dialihkan untuk fasilitas mewah rumah sakit. PhRMA menuding praktik ini merugikan sistem kesehatan dan mengurangi akses obat bagi mereka yang membutuhkan.
Kritik PhRMA terhadap 340B bukan tanpa alasan. Program ini telah berkembang pesat sejak awal pandemi, dengan anggaran yang mencapai US$ 54 miliar pada tahun 2023, meningkat tajam dari sebelumnya. Para produsen obat berargumen bahwa sistem ini tidak lagi efektif dalam menyalurkan manfaat kepada pasien yang membutuhkan.
FDA Tolak 38% Permohonan Terapi Sel dan Gen dalam 15 Bulan Terakhir
Sementara itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menunjukkan peningkatan tajam dalam penolakan terhadap permohonan terapi sel dan gen. Menurut data dari Alliance for Regenerative Medicine, tingkat penolakan meningkat dari 18% pada periode 2020-2024 menjadi 38% dalam 15 bulan terakhir.
Kenaikan ini memicu kekhawatiran di kalangan industri. Direktur Eksekutif Alliance for Regenerative Medicine, Janet Lynch Lambert, menyatakan bahwa ketidakpastian regulasi telah menggoyahkan pondasi industri yang sebelumnya stabil. Para perusahaan kini menghadapi tantangan besar dalam memprediksi kelayakan proyek terapi inovatif mereka.
Ketidakstabilan ini semakin diperparah oleh pergantian kepemimpinan di divisi FDA yang menangani terapi sel dan gen. Vinay Prasad, mantan kepala divisi tersebut, baru-baru ini diberhentikan, meninggalkan kekosongan yang semakin memperuncing ketidakpastian. Selain itu, banyak kantor di FDA yang kekurangan staf, menambah beban kerja dan memperlambat proses evaluasi.
Masalah ini menjadi sorotan dalam Meeting on the Med yang digelar di Roma pekan lalu. Para ahli menyoroti perlunya stabilitas regulasi untuk mendukung inovasi medis yang tengah berkembang pesat.
Dampak terhadap Pasien dan Industri
Ketidakpastian di FDA dan kontroversi seputar program 340B berpotensi memperlambat pengembangan terapi baru yang sangat dibutuhkan. Terapi sel dan gen, misalnya, menawarkan harapan besar bagi pengobatan penyakit kronis dan langka. Namun, tanpa dukungan regulasi yang jelas, banyak perusahaan yang enggan untuk berinvestasi lebih lanjut.
Di sisi lain, program 340B sendiri telah lama menjadi perdebatan. Sementara pihak yang mendukungnya berargumen bahwa program ini membantu rumah sakit dalam melayani masyarakat kurang mampu, kritikus menuding adanya penyalahgunaan yang merugikan sistem kesehatan secara keseluruhan.
Para pemangku kepentingan kini tengah menantikan langkah-langkah konkret dari pemerintah dan FDA untuk mengatasi kedua isu ini. Stabilitas regulasi dan transparansi dalam pengelolaan program 340B menjadi kunci untuk memastikan bahwa inovasi medis dapat terus berkembang tanpa mengorbankan akses dan keadilan bagi pasien.