Pada Oktober 2018, polisi di Brighton, Michigan, menangkap John Griswold, seorang ayah berusia 38 tahun tanpa catatan kriminal, setelah terjadi pertengkaran dengan saudaranya. Keluarga Griswold memberitahu petugas bahwa ia telah menelan setidaknya 10 pil yang tidak diketahui jenisnya, yang kemudian diidentifikasi sebagai obat tukak lambung. Selama dalam perjalanan menuju penjara, Griswold terlihat tidak stabil, sulit berbicara, dan hampir tidak bisa berjalan.

Di penjara, perawat Trina Barnett melihat Griswold berkeringat dengan pupil yang sangat kecil dan segera memerintahkan pemeriksaan medis darurat. Dokter di Rumah Sakit St. Joseph Mercy Livingston, William Kanitz, mendiagnosis Griswold dengan QTc prolongation—kondisi yang terkait dengan antidepresan dan dapat menyebabkan irama jantung abnormal—namun menyatakan tidak ada risiko langsung. Meskipun demikian, dalam surat pemulangan, Kanitz memperingatkan petugas untuk segera mencari bantuan jika kondisinya memburuk atau jika ia muntah berulang.

Griswold meninggal keesokan paginya akibat kematian jantung mendadak. Keluarganya kemudian menggugat petugas penjara dan pihak berwenang setempat atas kelalaian yang menyebabkan kematiannya.

Putusan Hak Imunitas Kualifikasi

Pada awal 2025, Hakim Robert White di Pengadilan Distrik AS Distrik Timur Michigan menolak permohonan hak imunitas kualifikasi bagi tujuh petugas dan kabupaten tersebut. Namun, putusan tersebut dibatalkan oleh Pengadilan Banding Sirkuit ke-6 AS pekan ini. Mahkamah menyatakan bahwa petugas tidak dapat dimintai pertanggungjawaban karena tidak ada hak konstitusional yang jelas terlanggar dalam kasus ini.

Menurut pengadilan, untuk membuktikan bahwa petugas melanggar hak Griswold berdasarkan Amendemen ke-14 sebagai tahanan pra-persidangan, kondisinya harus dianggap serius atau kebutuhan medisnya harus jelas terlihat oleh orang awam. Mahkamah mengacu pada beberapa kasus serupa, termasuk Blackmore v. Kalamazoo County (2004), Preyor ex rel. Preyor v. City of Ferndale (2007), dan Burwell v. City of Lansing (2021), yang menyatakan bahwa Griswold hanya muntah sekali dan tidak menunjukkan tanda-tanda kesakitan yang jelas sepanjang malam. Gerakannya yang terbatas dianggap sebagai indikasi bahwa ia tidak membutuhkan perawatan medis segera.

Namun, kesaksian petugas sendiri menunjukkan bahwa mereka sebenarnya menyadari kondisi Griswold yang memburuk. Setelah Griswold muntah sekitar pukul 20.00, petugas memeriksanya sebanyak 25 kali sepanjang malam. Meskipun demikian, tidak ada tindakan medis yang diambil hingga esok paginya, ketika Griswold ditemukan tidak sadarkan diri.

Ketidakpastian dalam Standar Perawatan Medis

Putusan ini menyoroti perdebatan yang lebih luas tentang standar perawatan medis bagi tahanan yang sakit atau cedera. Meskipun dokter telah memberikan peringatan tertulis, pengadilan menilai bahwa petugas tidak memiliki kewajiban hukum untuk bertindak lebih lanjut karena tidak ada indikasi yang jelas dan langsung mengenai kondisi Griswold.

"Pengadilan tidak dapat menetapkan standar bahwa setiap muntah atau ketidaknyamanan ringan memerlukan intervensi medis segera," tulis majelis hakim dalam putusannya. "Tidak ada hak konstitusional yang dilanggar dalam kasus ini."

Keluarga Griswold menyatakan kekecewaan atas putusan tersebut. Mereka berargumen bahwa peringatan dokter seharusnya menjadi acuan yang cukup bagi petugas untuk mengambil tindakan pencegahan. "Ini adalah kegagalan sistem yang mengorbankan nyawa seseorang," kata pengacara keluarga Griswold.

Implikasi bagi Petugas Penegak Hukum

Hak imunitas kualifikasi telah lama menjadi isu kontroversial dalam kasus-kasus yang melibatkan petugas polisi dan penjara. Putusan ini memperkuat perlindungan hukum bagi petugas, bahkan dalam situasi di mana tindakan mereka dianggap tidak memadai oleh keluarga korban. Para ahli hukum memperingatkan bahwa putusan ini dapat menciptakan preseden yang lebih sulit bagi masyarakat untuk menuntut petugas atas kelalaian.

  • Hak imunitas kualifikasi: Doktrin hukum yang melindungi petugas dari tuntutan sipil kecuali mereka melanggar hak konstitusional yang jelas terlanggar.
  • Standar perawatan medis: Putusan ini menunjukkan bahwa peringatan dokter saja mungkin tidak cukup untuk menetapkan kewajiban hukum bagi petugas.
  • Ketidakpastian hukum: Putusan ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana standar perawatan medis harus diterapkan dalam konteks tahanan.

Sementara itu, pihak berwenang di Michigan menyatakan bahwa mereka akan meninjau kembali prosedur standar untuk memastikan keselamatan tahanan di masa depan. Namun, bagi keluarga Griswold, keadilan belum tercapai.

Sumber: Reason