Sebuah artikel ilmiah yang diterbitkan di Journal of Law & Civil Governance Universitas Texas A&M mengungkap bagaimana sebuah citation palsu telah menyesatkan pengadilan untuk mempertahankan larangan senjata di tempat-tempat sensitif. Temuan ini menantang dasar hukum keputusan penting seperti New York State Rifle & Pistol Ass'n v. Bruen, yang menetapkan bahwa Amendemen Kedua secara tegas melindungi perilaku yang tercakup dalam teksnya.
Menurut putusan tersebut, negara bagian harus membuktikan bahwa pembatasan senjata yang diberlakukan konsisten dengan tradisi historis regulasi senjata di Amerika Serikat. Pemahaman publik pada masa pendirian negara menjadi kunci dalam penilaian ini. Pasca-putusan Bruen, banyak pengadilan berupaya mempertahankan larangan senjata di berbagai tempat sensitif dengan mengacu pada pemahaman yang salah mengenai pelanggaran era pendirian negara yang disebut going armed (membawa senjata) dengan cara menakut-nakuti publik.
Dalam kasus Antonyuk v. James, pengadilan federal Sirkuit Kedua mempertahankan larangan tempat di New York dengan mengklaim bahwa undang-undang Virginia dan Carolina Utara era pendirian negara melarang going armed secara mutlak di pasar dan pameran. Namun, pengadilan mengakui bahwa Virginia hanya melarang going armed "untuk menakut-nakuti negara", sementara Carolina Utara tidak memiliki unsur tersebut. Lebih lanjut, pengadilan menyatakan bahwa larangan berbasis tempat pada akhir abad ke-19 mengikuti model Carolina Utara, sehingga membenarkan hukum New York saat ini.
Menurut penelitian yang dilakukan, klaim ini terbukti salah. Antonyuk mengabaikan fakta hukum Carolina Utara yang sebenarnya dan menyalahartikan sebuah buku yang diterbitkan secara pribadi sebagai sumber hukum resmi.
Buku Pribadi yang Menyesatkan
Pada tahun 1792, François-Xavier Martin menerbitkan A Collection of the Statutes of the Parliament of England in Force in the State of North-Carolina, yang memasukkan Statute of Northampton tahun 1328. Putusan Bruen sendiri menyatakan bahwa statuta tersebut "tidak memiliki kaitan yang signifikan dengan Amendemen Kedua yang diadopsi pada 1791". Selain itu, statuta tersebut hanya berlaku untuk going armed yang dilakukan dengan maksud menakut-nakuti orang lain.
Namun, Antonyuk tidak melakukan penelitian terhadap hukum Carolina Utara yang sebenarnya. Pada tahun 1741, koloni Carolina Utara memberlakukan undang-undang yang mewajibkan para konstabel untuk menangkap "semua orang yang, di hadapan Anda, menunggangi atau pergi dengan senjata secara ofensif". Di sisi lain, undang-undang tersebut juga menyatakan bahwa "tidak ada budak yang boleh membawa senjata api, pedang, pentungan, atau senjata lainnya". Bahasa yang sama kemudian disahkan kembali pada tahun 1791 dan terus digunakan hingga setidaknya tahun 1855.
Dengan demikian, going armed bukanlah tindak pidana kecuali dilakukan secara ofensif. Sementara itu, going armed secara mutlak merupakan tindak pidana hanya jika dilakukan oleh seorang budak. Antonyuk juga mengabaikan preseden hukum Carolina Utara, seperti State v. Huntly, yang mengakui pelanggaran umum going armed untuk menakut-nakuti, tetapi menyatakan bahwa "membawa senjata secara mutlak bukanlah tindak pidana". Pandangan ini terus diulang hingga tahun 2024.
Dampak terhadap Pengadilan
Pengadilan telah disesatkan oleh penggunaan Martin's Collection sebagai sumber hukum tingkat tinggi. Hakim Stephen Breyer, dalam dissent-nya pada kasus Bruen, mengutip buku tersebut sebagai otoritas untuk menyatakan bahwa "Carolina Utara memberlakukan undang-undang yang bahasanya diambil hampir persis dari Statute of Northampton (dengan referensi vestigial kepada Raja)". Klaim ini terbukti tidak akurat dan menyesatkan.
Temuan ini menunjukkan pentingnya verifikasi sumber hukum yang akurat dalam proses peradilan. Kesalahan dalam mengutip sumber dapat berdampak luas, terutama dalam kasus-kasus yang melibatkan hak konstitusional seperti Amendemen Kedua.